Sebanyak 2.087 orang penerima beasiswa LPDP sedang studi (ongoing) pada program pendidikan dokter atau dokter gigi spesialis. Mereka dapat diatur penempatannya sesuai perencanaan kebutuah tenaga medis, khususnya wilayah prioritas, oleh Kementerian Kesehatan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Sesditjen Dikti) Kemdiktisaintek Prof Dr med dr Setiawan pada kegiatan peluncuran Inisiatif Strategis Program Akselerasi Kedokteran Gigi, Program Beasiswa Pendidikan Spesialis, dan Program Penempatan Residen Tingkat Mandiri di Kantor Kemdiktisaintek, Jl Pintu Satu Senayan, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
"Ini adalah aset kita untuk dapat segera ditugaskan di daerah-daerah prioritas yang membutuhkan tenaga spesialis ini karena ini mungkin ada yang akan lulus bulan depan, semester depan, dan seterusnya jadi ini adalah quick wins yang bisa kita upayakan untuk segera memenuhi kebutuhan tenaga medis di daerah prioritas dan rumah sakit prioritas," ucap Setiawan.
Plt Direktur Utama LPDP Yon Arsal mengatakan, pihaknya mendukung langkah-langkah strategis dalam akselerasi peningkatan akses dan kualitas pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi, termasuk untuk membiayai pendidikan maupun penyelarasan kebutuhan tenaga kesehatan nasional dengan kapasitas pendidikan yang tersedia.
"Kebijakan untuk penempatan dokter-dokternya, ketersediaan ada dimana, distribusinya tentu kami serahkan kepada para pemangku kepentingan yang terkait," ucapnya pada kesempatan yang sama.
Selaras, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, penerima beasiswa bisa ditempatkan untuk akselerasi pemerataan, termasuk beasiswa dari pemerintah daerah.
"Dalam konteks tersebut tenaga medis penerima beasiswa merupakan sumber strategis yang bisa ditempatkan untuk akselerasi pemerataan," ucapnya pada kegiatan tersebut.
Dalam hal ini, Setiawan mengungkapkan, ada 1.280 penerima beasiswa selain LPDP ongoing pada pendidikan dokter spesialis dan subspesialis. Data diperoleh dari 45 dari 56 perguruan tinggi.
Adapun penerima beasiswa selain LPDP tersebut terdiri dari 636 orang tugas belajar (Tubel) Kemenkes, 322 orang tubel pemda, 48 orang Tubel Kementerian Pertahanan, 177 orang penerima beasiswa yayasan/swasta, dan 97 orang penerima beasiswa rumah sakit.
Prodi Awardee LPDP Ongoing di Pendidikan Dokter/Dokter Gigi Spesialis dan Subspesialis
Berdasarkan data LPDP pada Oktober 2026, Setiawan memaparkan jumlah penerima beasiswa LPDP ongoing di setiap prodi pendidikan dokter atau dokter gigi spesialis dan subspesialis sebagai berikut:
Andrologi
Spesialis: 3
Subspesialis: -
Anestesiologi dan Terapi Intensif
Spesialis: 103
Subspesialis: 7
Bedah Anak
Spesialis: 16
Subspesialis: -
Bedah Plastik, Rekonstruksi, dan Estetik
Spesialis: 12
Subspesialis: -
Bedah Saraf
Spesialis: 41
Subspesialis: -
Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular
Spesialis: 32
Subspesialis: -
Dermatologi, Venereologi, dan Estetika
Spesialis: 49
Subspesialis: -
Farmakologi Klinik
Spesialis: 2
Subspesialis: -
Gizi Klinik
Spesialis: 20
Subspesialis: -
Ilmu Bedah
Spesialis: 80
Subspesialis: 8
llmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik
Spesialis: 60
Subspesialis: -
Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolagal
Spesialis: 6
Subspesialis: -
Ilmu Kesehatan Anak
Spesialis: 174
Subspesialis: 15
Ilmu Kesehatan Mata
Spesialis: 82
Subspesialis: -
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher
Spesialis: 25
Subspesialis: -
Ilmu Penyakit Dalam
Spesialis: 239
Subspesialis: 12
Jantung dan Pembuluh Darah
Spesialis: 240
Subspesialis: 1
Kedokteran Nuklir dan Teranostik Molekuler
Spesialis: 6
Subspesialis: -
Kedokteran Okupasi
Spesialis: 8
Subspesialis: -
Kedokteran Olahraga
Spesialis: 4
Subspesialis: -
Kedokteran Penerbangan
Spesialis: 3
Subspesialis: -
Mikrobiologi Klinik
Spesialis: 10
Subspesialis: -
Neurologi
Spesialis: 101
Subspesialis: -
Obstetri dan Ginekologi
Spesialis: 141
Subspesialis: 15
Onkologi Radiasi
Spesialis: 18
Subspesialis: -
Orthopaedi dan Traumatologi
Spesialis: 47
Subspesialis: -
Parasitologi Klinik
Spesialis: 2
Subspesialis: -
Patologi Anatomi
Spesialis: 22
Subspesialis: -
Patologi Klinik
Spesialis: 64
Subspesialis: -
Psikiatri
Spesialis: 37
Subspesialis: 4
Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Spesialis: 60
Subspesialis: -
Radiologi
Spesialis: 74
Subspesialis: -
Urologi
Spesialis: 76
Subspesialis: -
Bedah Mulut dan Maksilofasial
Spesialis: 48
Subspesialis: -
Ilmu Penyakit Mulut
Spesialis: 6
Subspesialis: -
Kedokteran Gigi Anak
Spesialis: 12
Subspesialis: -
Konservasi Gigi
Spesialis: 34
Subspesialis: -
Ortodonsia
Spesialis: 24
Subspesialis: -
Periodonsia
Spesialis: 20
Subspesialis: -
Prostodonsia
Spesialis: 20
Subspesialis: -
Radiologi Kedokteran Gigi
Spesialis: 2
Subspesialis: -
10 Provinsi dengan Rasio Dokter Spesialis Terhadap Populasi Terendah
Dikutip dari laman Indikator SDM Kesehatan, Direktorat Jenderal SDM Kesehatan Kemenkes, berikut sepuluh daerah dengan rasio jumlah dokter spesialis eksisting terhadap populasi yang terendah.
Papua Pegunungan
Dokter spesialis eksisting: 0
Populasi: 1.501.864
Papua Barat Daya
Dokter spesialis eksisting: 1
Populasi: 645.544
Kepulauan Riau
Dokter spesialis eksisting: 0
Populasi: 2.243.105
Papua Selatan
Dokter spesialis eksisting: 5
Populasi: 557.203
Papua Barat
Dokter spesialis eksisting: 4
Populasi: 596.461
Sulawesi Barat
Dokter spesialis eksisting: 103
Populasi: 1.547.354
NTT
Dokter spesialis eksisting: 382
Populasi: 5.828.569
Maluku Utara
Dokter spesialis eksisting: 118
Populasi: 1.391.708
NTB
Dokter spesialis eksisting: 529
Populasi: 5.815.328
Maluku
Dokter spesialis eksisting: 187
Populasi: 1.995.208.
Simak Video "Video: Alasan LPDP Pangkas Penerima Beasiswa di 2025-2026"
(twu/pal)