Dampak Ekonomi Kawasan Rinjani Capai Rp 15 Miliar per Bulan

Ahmad Viqi - detikBali
Minggu, 29 Mar 2026 11:03 WIB
Foto: Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan pada Ditjen KSDAE, Nunu Anugerah, dalam acara Rinjani Begawe Festival di Teras Udayana, Mataram, NTB, Sabtu malam (28/3/2026). (Ahmad Viqi/detikBali)
Mataram -

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membeberkan efek berganda dampak adanya aktivitas pendakian di Gunung Rinjani dan kawasan lingkar Rinjani. Dampak ekonomi yang dihasilkan, mulai dari pendakian, penginapan, hingga wisata alam nonpendakian mencapai Rp 15 miliar per bulan.

Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Nunu Anugerah, menjelaskan mengelola hutan tidak hanya parsial dengan mengelola tumbuhan, way life, dan ekologis. Menurut dia, pendekatan pengelolaan kawasan hutan telah berubah.

"Sekarang di hutan ada aspek lain yang perlu diperhatikan. Ada aspek sosial budaya dan lain sebagainya," kata Nunu saat menghadiri Rinjani Begawe Festival 2026 di Teras Udayana, Kota Mataram, NTB, Sabtu malam (28/3/2026).

Nunu menjelaskan Indonesia ditetapkan sebagai negara yang memiliki hutan tropis luas sangat penting memperkuat keberanjutan kawasan. Untuk itu, penting menjaga fungsi hutan, fungsi ekologis, fungsi ekonomi, dan sosial budaya.

Dalam data Kemenhut, Nunu berujar, terdapat 569 hutan konservasi, 57 hutan suaka alam, 145 taman nasional wisata alam, 51 tahura, 98 suaka margasatwa, 214 cagar alam, 10 taman burung hingga ada 6 suaka alam belum ditetapkan fungsinya di Indonesia.

Seluruh kawasan-kawasan tersebut memiliki potensi pemanfaatan jasa lingkungan diatur dalam UU Nomor 32 tahun 2004 dan teknisnya diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 27 tahun 2025 mengenai Pemanfaatan Jasa Lingkungan.

"Di kawasan ini diatur investasi publik baik yang bergerak di wisata alam, energi, panas bumi, karbon, angin, dan matahari. Jadi, ada eksistensi sebuah suaka alam dan kawasan palestarian alam bagi nilai ekonomi. Baik finansial maupun non finansial," katanya.

Khusus Taman Nasional Gunung Rinjani, telah berkontribusi mendapatkan cuan dari Penerima Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 26 miliar per tahun. Dalam kajian berikutnya, Rinjani telah melahirkan efek pengganda atau multiplier effect untuk masyarakat lingkar kawasan.

"Data dari UPT TNGR, Rinjani mampu menghasilkan sekitar Rp 500 juta per hari atau Rp 15 miliar per bulan. Kira-kira begitu penghasilan efek keberadaan Rinjani di Pulau Lombok," kata Nunu.

Menurut Nunu, efek ganda Rinjani ini telah berkontribusi dalam menopang pertumbuhan ekonomi wilayah untuk kesejahteraan masyarakat. Dengan begitu kata dia, harus ada perbaikan-perbaikan dalam aktivitas pendakian di Gunung tertinggi di Bumi Gora itu.

"Jadi, Pak Menteri Kehutanan (Raja Juli Antoni) menekankan zore waste, zero accident, harus ada pencegahan kepadatan pengunjung tentu dengan sistem digital serta memberikan pelayanan terbaik bagi publik menjaga integritas kawasan di Rinjani," tegas Nunu.

Dia pun menekankan, aktivitas pendakian di Rinjani harus pula dilakukan dengan baik dan didukung oleh kelengkapan infrastruktur serta standar operasional prosedur yang baik.

"Kami harap program Rinjani 7.0 ini bisa mengangkat nilai budaya adat lokal masyarakat setempat dan memperkuat komunikasi publik yang baik. Baik waktu pembukaan dan penutupan pendakian," tegas Nunu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata NTB Ahmad Nur Aulia menjelaskan kekuatan utama Rinjani bukan pada lanskap alam yang indah tapi kultur budaya Suku Sasak yang berada di kawasan Rinjani. Kultur budaya ini harus terus diangkat agar dunia lebih mengenal budaya kawasan Rinjani.

"Bagi kami di Pemprov NTB, pelestarian adalah pondasi utama tidak boleh mengorbankan lingkungan dan budaya demi pertumbuhan jangka pendek. Harus mampu menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi," katanya.

Aulia mengatakan, keberadaan Rinjani harus memberikan manfaat bagi masyarakat lokal. Pengembangan kawasan Rinjani juga harus terarah dan terintegrasi. Pembangunan pariwisata tidak hanya menjadi proyek tapi harus menjadi multiplier effect.

"Pengembangan Rinjani harus diikuti ke desa desa lingkar Rinjani. Melalui pendekatan sosial yang struktur agar berkelanjutan dan tepat sasaran," tandas Aulia.



Simak Video "Video: Agam Rinjani Turun Gunung, Bantu Cari Korban Pesawat ATR 42-500"

(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork