Ekowisata Mangrove Perancak, Wisata Trekking di Tengah Hutan

I Ketut Suardika - detikBali
Senin, 19 Sep 2022 03:15 WIB
Jembrana -

Kabupaten Jembrana, Bali, memiliki hutan mangrove cukup luas yang berada di beberapa desa, salah satunya hutan mangrove di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana. Potensi ini menjadi daya tarik wisata Ekowisata Mangrove Perancak Bali, terutama bagi wisatawan lokal.

Ekowisata Mangrove, kegiatan wisata yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar, yang dikelola dengan pendekatan konservasi dan edukasi. Pemberdayaan kawasan pesisir hutan mangrove untuk ekowisata memiliki potensi menjadi kegiatan new normal tourism, wisatawan yang datang dapat melakukan kegiatan-kegiatan di dalam kawasan mangrove.

Daya tarik ekowisata mangrove memiliki keberagaman masing-masing, sumber daya alam menjadi salah satu pesona daya tarik ekowisata di sini. Kegiatan-kegiatan yang menjadi salah satu daya tarik ekowisata mangrove, di antaranya fotografi, selfie, treking, edukasi, dan banyak lainnya.


Ditemui detikBali, Ketua Pokdarwis Mekar Bersemi Desa Perancak, I Wayan Anom Astika Jaya menjelaskan, ekowisata yang berada delapan kilometer dari pusat kota Negara ini, terdiri dari dua kawasan utama, yakni jogging track dan hutan mangrove.

"Secara umum, mangrove di sini paparannya cukup luas dan tumbuh secara alami. Ada 17 jenis mangrove," kata Anom ditemui di Ekowisata Mangrove, Minggu (18/9/2022).

Adapun jenis mangrove tersebut, seperti Avicennia Alba (Api-api), Xylocarpus rumpii (Nyireh Laut), Bruquiera gymnorrhiza (Lindur), Avicennia marina (Api-api), Rhizopora mucronata (Bakau), Sonneratia alba (Perapat), Rhizopora apiculata (Bakau), Ceriops zippollana (Tanjang), dan Avicennia officinalis (Sia-sia),

Juga ada jenis Ceriops decandra (Kenyongnyong), Xylocarpus granatum (Nyiri Batu), Xylocarpus mollucensis (Nyireh), Bruquiera cylindrica (Tanjang), Nypa fruticans (Buyuk), Rhizopora stylosa (Bakau), Exceceria agallocha (Bute-buta), Lumnitzera racemosa (Kedukduk).

Untuk memasuki jogging track, pengunjung dipungut biaya tiket masuk sebesar Rp 10 ribu untuk orang dewasa dan Rp 5 ribu untuk anak-anak. Pengunjung bisa menikmati hamparan hutan mangrove di kawasan ini.

Jika ingin menjelajahi hutan mangrove lebih lama dan luas, maka pengunjung bisa menyusuri sepanjang sungai menggunakan perahu sepanjang 1,5 kilometer, selama kurang lebih 15 menit. Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan hutan mangrove yang asri.

Hutan mangrove Desa Perancak seluas 68 hektare ini juga sudah memiliki jalur trekking kayu sepanjang 165,45 meter di tengah hutan yang dibangun pada tahun 2020. Untuk jogging track dibangun sesuai kemampuan Pokdarwis.

Ekowisata Mangrove dibuka perdana pada bulan Desember 2020, bertepatan menjelang tahun baru sehingga kunjungan sangat membeludak. "Waktu itu cukup booming. Sehingga kunjungan sangat membeludak, sampai kami saat itu membuka areal lagi dan menambah fasilitas, seperti bale bengong dan lainnya," ujarnya.

Namun sejak pandemi, kunjungan tidak begitu ramai. Anom menyadari, dibutuhkan inovasi-inovasi dalam mengelola tempat wisata ini. Juga ada penunjang lain seperti atraksi atau wahana, sehingga bisa terus mendatangkan kunjungan.

"Memang harus ada inovasi. Kalau pariwisata tidak ada atraksinya, pasti akan ditinggalkan pengunjung," terangnya.

Ekowisata Mangrove Perancak merupakan satu paket dengan potensi wisata lain di Jembrana, salah satunya Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih, yang juga dikelola Anom sebagai Koordinator Pelestari Penyu.

(irb/irb)