Ratusan orang berdoa bersama dan menabur bunga untuk mengenang Veronica Beatrix Jessica (23), korban kapal pinisi Feronia tenggelam di perairan Taman Nasional (TN) Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Doa bersama dan tabur bunga ini dilaksanakan di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Sabtu (24/10/2026) malam.
Mereka terdiri dari keluarga dan sahabat Jessica. Hadir pula tim search and rescue (SAR) gabungan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat dan masyarakat umum Labuan Bajo. Kegiatan ini digelar setelah Jessica tak ditemukan selama 10 hari operasi SAR.
Doa bersama dan tabur bunga berlangsung dalam suasana haru. Mereka terlebih dahulu menggelar doa sebelum tabur bunga. Mereka menyalakan lilin dan menyanyikan sejumlah lagu untuk mengenang Jessica. Sejumlah anggota keluarga dan sahabat Jessica terlihat menangis. Seorang pendeta kemudian memimpin doa untuk Jessica.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan orang itu kemudian berjalan kaki menuju kolam di kawasan Pelabuhan Marina Labuan Bajo itu untuk menabur bunga. Mereka membawa lilin yang masih menyala. Ayah, ibu, adik, dan kakak Jessica kemudian menaburkan bunga di kolam. Anggota keluarga yang lain dan masyarakat umum lantas ikut menaburkan bunga.
Suasana haru kembali terlihat saat menaburkan bunga. Sejumlah anggota keluarga dan sahabat Jessica kembali menangis. Rangkaian kegiatan itu berakhir sekitar pukul 22.30 Wita.
Sepupu Jessica, Cheryl Marella, mengatakan keluarga melaksanakan tabur bunga di lokasi kapal tenggelam pada siang hari sebelum kegiatan serupa di Pelabuhan Marina Labuan Bajo. Berbeda dengan siang hari, doa dan tabur bunga pada malam melibatkan masyarakat umum. Rangkaian kegiatan itu untuk mengenang dan melepas Jessica.
"Tadi siang kami sudah sempat tabur bunga di lokasi kejadian. Keluarga datang dari Jakarta, dari Bali semua untuk mengenang Jessica dan juga melepaskan Jess," ujar Cheryl seusai tabur bunga.
"Kemudian malam kami mulai juga di Pelabuhan Marina untuk kebaktian penghiburan. Teman-temannya Jessica semua yang ada di Labuan Bajo semua datang. Keluarga semua juga datang dan tujuannya untuk melepaskan dan juga mengenang Jessica semuanya," imbuh Cheryl.
Ayah Jessica, Filius Lahunduitan, tetap berharap jasad anaknya tetap bisa ditemukan setelah berakhirnya operasi SAR. Filius ingin jasad Jessica bisa dikuburkan.
"Saya harapan, paling nggak bisa menemukan, kalau sudah berupa jasad. Jasadnya ada supaya kami juga bisa layakkan, dikuburkan dengan baik," harap Filius.
Ibunda Jessica, Anastasia Daisy, juga mengutarakan hal yang sama. Ia susah untuk mengikhlaskan anaknya karena tak bisa ditemukan.
"Saya hanya sekali lagi bersyukur karena kami sudah boleh tadi sama-sama keluarga (tabur bunga) dan tetap di dasar hati saya masih mengharapkan kami boleh menemukan. Tetapi, sekali lagi kami percaya bahwa Jessica sudah bersama 'nakhoda kapal' yang sejati," ujar Daisy.
Sebagaimana diketahui, Jessica adalah korban pinisi Feronia tenggelam di perairan Batu Bolong, TN Komodo, Selasa (13/10/2026). Dia diduga terjebak dalam toilet saat kapal tenggelam diterjang arus kuat.
Perempuan asal Jakarta tersebut merupakan ahli selam (dive master). Jessica menjadi instruktur aktivitas penyelaman (diving) puluhan wisatawan di kapal yang tenggelam tersebut. Dia bekerja di perusahaan penyelaman bernama Dive Tribe di Labuan Bajo.
Jessica bekerja di Labuan Bajo sejak sekitar lima tahun lalu. Namun, baru sebulan lebih dia bekerja di Dive Tribe. Sebelumnya, dia bekerja di sebuah perusahaan kapal pinisi di Labuan Bajo.
Jessica tak ditemukan hingga berakhirnya operasi SAR pada hari ke-10, Kamis (22/10/2026). Pencarian Jessica awalnya direncanakan tujuh hari. Pencarian diperpanjang tiga hari setelah ada permintaan dari keluarga.
Selama 10 hari pencarian, tim SAR mengerahkan hingga lebih dari 200 personel, termasuk penyelam. Peralatan canggih juga dikerahkan seperti drone thermal drone bawah air hingga beam sonar.
Belasan kapal juga dikerahkan untuk mencari Jessica, termasuk kapal perang TNI KRI Pulau Fani-731 yang bergabung dalam operasi SAR selama enam hari terakhir. Kapal perang pemburu ranjau buatan Jerman itu dilengkapi sonar yang bisa memindai objek bawah laut hingga kedalaman 300 meter.
(hsa/hsa)