Keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) masih menjadi tantangan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Padahal, jumlah operasi SAR di wilayah tersebut terus meningkat, terutama untuk menangani kecelakaan kapal wisatawan dan kondisi yang membahayakan manusia.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan kondisi itu saat berkunjung ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Kupang, NTT, Jumat (23/10/2026).
"Saya tetap bersyukur walaupun seluruh kekuatan yang dimiliki oleh Kantor SAR Kupang ini secara kuantitas masih jauh dari kebutuhan, tetapi petugasnya memiliki kondisi kesehatan yang baik," ujar Syafii.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syafii mengatakan operasi SAR pada periode 2020-2026 mengalami peningkatan. Salah satu kejadian yang banyak ditangani adalah kecelakaan kapal wisatawan, seperti yang terjadi di Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Selain itu, operasi SAR juga dilakukan untuk menangani kondisi yang membahayakan manusia, seperti aktivitas di perairan dan hutan, serta orang yang tiba-tiba sakit. Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi operasi SAR. Meski demikian, Syafii enggan merinci jumlah kejadiannya.
Menurut Syafii, operasi SAR di laut juga mengalami peningkatan signifikan, mulai dari Kupang hingga Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Peningkatan itu terjadi seiring dengan tingginya minat wisatawan terhadap destinasi wisata di NTT dan NTB.
"Sehingga khususnya pariwisata air juga menjadi perhatian khusus bagaimana sarpras yang dimiliki oleh setiap kantor SAR. Ke depannya, kami ingin menyesuaikan besarnya potensi kedaruratan yang dihadapi harus dibarengi dengan perlengkapan yang nantinya kami perjuangkan," jelas Syafii.