Ketegangan geopolitik dan perang global dinilai mulai berdampak pada sektor perumahan, terutama beberapa komponen material bangunan yang masih bergantung pada impor. Namun, secara umum sektor perumahan di Indonesia dinilai masih cukup tahan karena mayoritas bahan bangunan berasal dari dalam negeri.
Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Bagus Hendri Setiawan, mengatakan komponen bangunan seperti besi dan baja menjadi material yang paling rentan terdampak fluktuasi nilai tukar akibat ketergantungan pada impor.
"Memang ada beberapa komponen dari perumahan yang sepertinya terdampak juga. Seperti besi atau baja gitu ya yang cukup terdampak apabila ada fluktuasi untuk nilai tukar karena mereka bergantung pada impor," ujarnya kepada awak media saat ditemui di Denpasar, Senin (8/6/2026).
Selain itu, tantangan saat ini lebih banyak dirasakan pengembang dalam menjaga margin usaha di tengah kenaikan biaya produksi.
"Mungkin teman-teman yang ada di mitra kami developer, mungkin marginnya akan sedikit. Mereka harus memeras otak untuk mengatur gitu ya. Apakah efisiensinya, di mana yang mereka bisa lakukan," lanjutnya.
Meski demikian, Bagus menegaskan sektor perumahan secara umum tidak terlalu terdampak karena sebagian besar material yang digunakan masih berbasis produksi lokal. Menurutnya, porsi material impor dalam pembangunan rumah relatif kecil.
"Tapi sebenarnya kalau perumahan, sebenarnya relatif local based. Barang-barang yang ada untuk membangun rumah atau misalnya bahan-bahan yang dimiliki perumahan itu relatif lokal," tuturnya.
Bagus mencontohkan sejumlah bahan utama seperti semen dan bata yang diproduksi di dalam negeri sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak perdagangan global. Ia memperkirakan sekitar 80 persen material pembangunan rumah masih berasal dari dalam negeri.
"Ya semen, kita punya industri semennya kok gitu ya, bata juga relatif lokal gitu ya. Memang pasti ada tekanan-tekanan terkait dengan harga dampak karena beberapa harga minyak, BBM, ataupun misalkan yang naik gitu ya," imbuhnya.
Di samping itu, ia menilai pelaku sektor perumahan memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis ekonomi, mulai dari krisis awal 2000-an hingga krisis keuangan global 2008. Sehingga dinilai mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini.
Bagus berharap daya beli dan keterjangkauan masyarakat terhadap hunian tetap terjaga lewat program 3 juta rumah serta penyaluran KPR bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Kami berharap bahwa kemampuan masyarakat dan keterjangkauan itu yang kami tetap jaga. Ya semoga juga salah satunya dengan program 3 juta rumah, KPR-KPR yang untuk masyarakat berpenghasilan rendah itu bisa terserap dengan baik," harapnya.
Simak Video "Video Bos BTN Bahas Strategi Jangkau Unbanked, KPR Subsidi hingga Digitalisasi"
(nor/nor)