Terdapat sejumlah peristiwa di Nusa Tenggara (Nusra) yang menarik perhatian pembaca detikBali pekan ini, 25-31 Mei. Mulai dari turis Autria tewas terjatuh di jembatan Air Terjun Cunca Wulang, vonis kasus kapal yang ditumpangi Pelatih Valencia CF tenggelam di Labuan Bajo, hingga remaja tunarungu di Kupang diperkosa tetangga hingga hamil. Berikut rangkumannya.
Dua Turis Austria Tewas Terjatuh dari Jembatan Air Terjun Cunca Wulang
Momen liburan dua turis asal Austria berujung maut. Pelancong asing bernama Jurgen Perjul (55) dan Astrid Perjul (57) itu tewas terjatuh dari jembatan gantung setinggi 20 meter di kawasan Air Terjun Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Air Terjun Cunca Wulang adalah salah satu destinasi wisata alam populer di Labuan Bajo. Jurgen dan Astrid terjatuh akibat sejumlah papan kayu pada jembatan gantung menuju lokasi air terjun itu patah.
"Papan penyeberangan (jembatan gantung) patah dan mengakibatkan kedua korban jatuh," ungkap Kepala Kantor SAR Maumere SAR Mission Coordinator, Fathur Rahman, Minggu (24/5/2026).
Insiden tragis itu bermula ketika Jurgen dan Astrid berkunjung ke destinasi wisata Air Terjun Cunca Wulang sekitar pukul 11.30 Wita, Minggu. Keduanya jatuh tepat pada bebatuan di bawah jembatan.
"Korban terjatuh dan meninggal dunia di lokasi kejadian," jelas Fathur.
Pemandu wisata (tour guide), Muhamad Muhardin (30), turut menyaksikan detik-detik ketika Jurgen dan Astrid terjatuh di jembatan gantung tersebut. Menurut Muhardin, kedua turis asing itu tiba di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang sekitar pukul 09.20 Wita.
Keduanya didampingi oleh sopir pribadi mereka, Julius Mam (45). Setelah menyelesaikan proses registrasi administrasi di pos tiket, kedua turis itu memulai treking menuju air terjun dengan dipandu oleh Muhardin.
Setibanya di jembatan gantung kayu yang membentang tinggi di atas aliran sungai berbatu, kedua korban berniat mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui video pendek. Mereka kemudian menyerahkan telepon genggam kepada Muhardin dan memintanya merekam dari arah belakang.
"Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum hangat ke arah kamera. Mereka sempat meminta saya ambil video dari belakang saat menyeberang jembatan," tutur Muhardin di Labuan Bajo, Minggu.
Sekitar 10 meter melangkah di atas bentangan jembatan gantung, Muhardin berujar, struktur kayu yang menjadi tumpuan kaki mendadak patah. Terdengar pula suara keras seperti pohon besar tumbang. Muhardin menyaksikan kedua turis itu jatuh dari jembatan hingga tubuh mereka terbentur di bebatuan besar.
"Dalam hitungan detik, jembatan langsung ambruk total," ujar Muhardin.
"Saya melihat mereka berdua jatuh bebas ke bawah dan langsung menghantam batu-batu sungai yang besar di dasar jurang," imbuhnya.
Muhardin lantas bergegas berlari kembali ke pos tiket dan meminta pertolongan warga sekitar. Tak lama kemudian, tim SAR gabungan tiba di lokasi untuk mengevakuasi kedua turis asing tersebut.
Polres Manggarai Barat kini menyelidiki dugaan kelalaian pengelola wisata Air Terjun Cunca Wulang hingga mengakibatkan dua korban jiwa. Polisi pun telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di kawasan tersebut.
"Kami tidak main-main dengan keselamatan wisatawan yang berkunjung ke wilayah Manggarai Barat. Tim Identifikasi Sat Reskrim Polres Manggarai Barat sedang melakukan olah TKP mendalam untuk memeriksa kelayakan teknis jembatan kayu tersebut," ujar Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang.
Polisi, dia berujar, juga akan menyelidiki kelayakan infrastruktur jembatan gantung tersebut. Termasuk mendalami adanya potensi kelalaian pengelola wisata yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain.
"Kami juga akan memanggil pihak pengelola destinasi wisata Cunca Wulang untuk dimintai keterangan secara intensif terkait standar keselamatan (SOP) dan pemeliharaan infrastruktur yang mereka terapkan selama ini," jelas Christian.
Vonis Kasus Kapal Pelatih Valencia Tenggelam: Nakhoda 3,5 Tahun, ABK 2,5 Tahun
Majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada dua terdakwa perkara tenggelam kapal pinisi KM Putri Sakinah yang menewaskan pelatih Valencia CF, Fernando Martín Carreras, dan tiga orang anaknya. Putusan itu dibacakan pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (25/5/2026).
Kedua terdakwa yakni nakhoda kapal, Lukman (56), dan anak buah kapal (ABK) yang bertugas sebagai Kepala Kamar Mesin (KKM), Muhamad Alif Latifa N Djudje (22). Lukman divonis 3,5 tahun penjara, sedangkan hukuman untuk Alif lebih ringan, yakni 2,5 tahun penjara.
"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa 1, Lukman, oleh karena itu dengan pidana penjara selama tiga tahun dan enam bulan," demikian amar putusan yang dibacakan majelis hakim.
"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa 2, Muhammad Alif Latifa N. Djudje, oleh karena itu dengan pidana penjara selama dua tahun dan enam bulan," lanjut majelis hakim.
Dalam putusannya, Majelis hakim menyatakan bahwa kedua terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "turut serta melakukan, yang karena kealpaannya mengakibatkan matinya orang lain".
Vonis majelis hakim itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pada sidang sebelumnya, kedua terdakwa dituntut hukuman pidana penjara empat tahun enam bulan.
Persidangan tersebut dipimpin hakim ketua Putu Dima Indra dan dua hakim anggota, yakni Made Wirangga Kusuma dan Intan Hendrawati. Dalam sidang itu hadir kedua terdakwa, JPU dari Kejaksaan Negeri Manggarai Barat Gede Romy Askara, dan kuasa hukum terdakwa, Yohanes Baptista Kou.
Diketahui, KM Putri Sakinah tenggelam di Selat Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, pada 26 Desember 2025 malam. Kecelakaan kapal itu menewaskan pelatih sepakbola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando, dan tiga anaknya. Istri dan anak bungsu Fernando selamat dalam insiden itu.
Kecelakaan itu terjadi saat kapal dikemudikan Alif. Lukman menyerahkan kemudi kepada Alif karena mau makan malam di dapur kapal.
Simak Video "Video: 2 Turis Asing Tewas Terjatuh dari Jembatan Wisata Air Terjun Labuan Bajo"
(nor/nor)