detikBali

Jembatan Darurat di Lembar Ambruk, Warga Pasang Batang Kelapa-Aktivitas Lumpuh

Terpopuler Koleksi Pilihan

Jembatan Darurat di Lembar Ambruk, Warga Pasang Batang Kelapa-Aktivitas Lumpuh


M. Zahiruddin - detikBali

Jembatan darurat penghubung desa di Kecamatan Lembar, Lombok Barat ambruk, Selasa (14/4/2026). (Dok. Kepala Desa Sekotong Timur/Marwan Hakim)
Foto: Jembatan darurat penghubung desa di Kecamatan Lembar, Lombok Barat ambruk, Selasa (14/4/2026). (Dok. Kepala Desa Sekotong Timur/Marwan Hakim)
Lombok Barat -

Jembatan darurat di Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), ambruk akibat tidak mampu menahan beban. Warga setempat kemudian bergotong royong memasang dua batang pohon kelapa sebagai penopang.

Kepala Desa Sekotong Timur, Marwan Hakim mengungkapkan jembatan tersebut ambruk pada Selasa (14/4/2026), karena tidak kuat menopang beban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu kami gotong royong pasang dua batang kelapa lagi supaya bisa dilewati," ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ambruknya jembatan tersebut berdampak pada aktivitas pendidikan di dua desa. Banyak siswa memilih tidak bersekolah karena takut melintasi jembatan darurat tersebut. Orang tua pun melarang anak-anak mereka.

ADVERTISEMENT

"Makanya ini banyak anak-anak kami nggak mau sekolah, karena takut sama jembatan itu. Orang tua mereka juga melarang. Guru juga takut ngajar," kata Marwan.

Selain itu, aktivitas perekonomian warga ikut terganggu. Warga yang hendak ke pasar terpaksa memutar dengan jarak tempuh hingga tujuh kali lebih jauh dari biasanya.

Tidak hanya itu, aktivitas penyaluran menu Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terhambat. Marwan khawatir kondisi tersebut nantinya mengakibatkan MBG menjadi basi karena telat disalurkan.

"MBG juga tidak bisa lewat. Makanya harus dioper-oper. Takutnya keracunan warga kami, karena kelamaan di sana," tuturnya.

Marwan mengatakan sudah melaporkan kejadian tersebut ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat. Ia berharap pembangunan jembatan permanen dipercepat untuk menghindari potensi korban.

"Sudah saya lapor Pak Kadis, katanya lagi perlengkapan tender. Makanya saya mau dipercepat saja, takutnya ada korban nanti," tandasnya.

Sebelumnya, jembatan penghubung Desa Mareje dan Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, putus diterjang arus sungai, Minggu (22/2/2026). Sekitar 300 kepala keluarga (KK) sempat terisolasi selama dua hari akibat ambruknya akses utama tersebut.

Jembatan itu merupakan satu-satunya penghubung antara Desa Sekotong Timur dan Desa Mareje di Kecamatan Lembar. Putusnya jembatan membuat aktivitas warga lumpuh, termasuk distribusi barang dan mobilitas kendaraan.

Kepala Desa Sekotong Timur, Marwan Hakim, mengatakan putusnya jembatan juga berdampak pada sedikitnya lima sekolah, mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Dasar (SD). Akibatnya, ratusan siswa tidak bisa pergi ke sekolah sejak Senin (23/2/2026).

"Sampai hari ini kan tidak ada yang bisa sekolah anak-anak kami ini, karena nggak bisa lewat. Di sini saja SDN 1 Sekotong Timur jumlah siswanya sekitar 200, tapi yang masuk nggak sampai 70. Ada juga warga kami yang sekolah ke luar tapi nggak bisa lewat," ungkapnya kepada detikBali, Rabu (25/2/2026).

Menurut Marwan, tidak hanya aktivitas pendidikan yang terdampak. Kegiatan ekonomi warga di lima dusun tersebut juga tersendat karena akses menuju jalur utama lumpuh.

"Warga kami ini sudah nggak bisa ke pasar, harus muter dulu lewati bukit. Ada ibu-ibu yang jualan sayur pakai motor itu juga sekarang sudah nggak bisa lewat jadinya," tuturnya.



(nor/nor)









Hide Ads