Anggota DPRD Kritik Setahun Melki-Johni, Data Stunting Dinilai Tak Transparan

Simon Selly - detikBali
Sabtu, 21 Feb 2026 09:03 WIB
Foto: Anggota DPRD NTT, Nelson Matara, saat diwawancarai media di Kantor DPRD NTT, Jumat (20/2/2026). Foto: Simon Selly/detikBali.
Kupang -

Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), Nelson Matara, mengkritik pemerintahan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma terkait transparansi data stunting selama satu tahun masa kepemimpinan Melki-Johni. Kritik tersebut disampaikan Nelson usai Gubernur Laka Lena menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPRD NTT, Jumat (20/2/2026).

Menurut Nelson, pidato Laka Lena terkesan menyembunyikan sejumlah hal dari publik. Salah satunya soal kasus stunting. Ia mengatakan, Laka Lena tidak transparan terkait data stunting dan dampak dari program-program nasional.

"Dampak dari program nasional itu tidak ter-cover dalam pidatonya tadi. Itu artinya tidak nyambung antara program nasional dengan program yang ada di Nusa Tenggara Timur," kata Nelson, Jumat (20/2/2026).

Politikus PDI Perjuangan itu juga menyoroti penyampaian data kemiskinan dan stunting yang dinilainya tidak konsisten. Ia meminta gubernur menyampaikan data stunting secara terbuka.

"Bukan malah menyembunyikan data-data terkait kemiskinan di NTT. Faktanya, angka stunting yang tinggi di NTT dengan apa yang disampaikan oleh Gubernur NTT perihal angka kemiskinan yang menurun, sebagai suatu ketidaksinkronan atau saling bertolak belakang," terang dia.

Nelson menegaskan, Laka Lena harus berkata jujur kepada publik yang menyangkut data rill. "Nah, oleh karena itu Gubernur harus jujur mengatakan kepada rakyat Nusa Tenggara Timur menyangkut data-data ini yang perlu saya komentari," tegas Nelson.

Ia juga menyoroti, dalam pidato setahun kepemimpinan Melki-Johni banyak yang disembunyikan. Nelson menilai ada banyak hal yang tidak disampaikan dalam pidato Gubernur Laka Lena terkait satu tahun kerja Melki-Johni dalam kepemimpinannya.

"Misalnya bicara tentang perikanan, bicara tentang pertanian betul, petani itu angka produksinya naik, tapi daya belinya kan kurang. Itu kan rakyat petani tetap miskin, sama juga dengan perikanan," pungkasnya.

Nelson melanjutkan, seharusnya data-data ini perlu disampaikan dalam pidato Laka Lena supaya masyarakat NTT bisa tau seperti apa kondisi merak saat ini guna perbaikan ke arah yang lebih baik ke depannya.

Ia berharap Melki-Johni dapat memperbaikinya dan transparan menyampaikan program-program yang sudah dikerjakan oleh keduanya.

Sementara itu, dalam pidatonya, Laka Lena menegaskan bahwa pembangunan ekonomi berkelanjutan tidak semata-mata mengejar angka pertumbuhan.

"Melainkan membangun kedaulatan ekonomi dan keberpihakan nyata kepada petani, nelayan, pelaku UMKM, serta generasi muda NTT. Kita memilih berdiri di sisi mereka," jelasnya.

Ia menjelaskan program Melki-Johni salah satunya memberikan program perlindungan pekerja rentan dan pada 2025 sebanyak 100.000 pekerja sektor informal telah didaftarkan dalam skema jaminan sosial ketenagakerjaan melalui BPJS Ketenagakerjaan.

Melki menyebut sasaran program meliputi petani, nelayan, pengelola hutan, atlet berprestasi, serta kelompok rentan. "Seperti janda, lansia produktif, dan penyandang disabilitas yang masih aktif bekerja," kata dia.



Simak Video "Video: Pesona Solo Stage Member aespa di Konser #SYNK_aeXISLINE Jakarta"

(nor/nor)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork