Gubernur NTT Ancam Tuntut Pemda jika Kasus Siswa Bunuh Diri Terulang

Simon Selly, Ambrosius Ardin - detikBali
Rabu, 04 Feb 2026 22:30 WIB
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat diwawancarai detikBali di Kantor Gubernur, Selasa (6/1/2026). Foto: Simon Selly/detikBali
Kupang -

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena geram atas kasus bunuh diri yang menimpa YBS (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada. Ia menegaskan akan menuntut pemerintah daerah jika tragedi serupa kembali terjadi di wilayah NTT.

"Besok ada lagi model begini saya tuntut orang-orangnya. Kalau pun saya, maka saya siap tuntut. Kalau ada salah maka siap orang itu dituntut. Masa ada warga negara mati karena hal begini," tegas Laka Lena, Rabu (4/2/2026).

Melki menyayangkan peristiwa tersebut terjadi di tengah derasnya aliran bantuan pemerintah pusat ke NTT, termasuk program pengentasan kemiskinan.

"Kami punya perangkat PKH, uang mengalir triliunan ke NTT urusan orang miskin masih ada yang mati urusan begini," imbuh Laka Lena.

Ia menegaskan kasus ini juga menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Menurut Melki, tragedi itu mencerminkan kegagalan pranata sosial dan sistem pemerintahan dalam melindungi warga yang paling rentan.

"Syukur ini diketahui publik setelah kami rakornas. Itu kejadian kalau Pak Prabowo tau, mati kami dicincang. Pak Prabowo paling marah hal-hal begini. Ini kami tidak tau apa yang salah tapi pranata sosial kami gagal, pemerintah kami juga sama," jelas Laka Lena.

Akibat peristiwa tersebut, Melki mengaku menerima banyak telepon dari menteri-menteri di tingkat pusat. Ia menyebut kematian siswa SD di Ngada menjadi sorotan nasional karena dipicu persoalan kemiskinan, termasuk ketidakmampuan membeli alat tulis sekolah.

"Saya sampai ditelepon oleh banyak menteri karena hal ini. Ini alarm untuk pemerintah karena banyak warga daerah yang hidup dengan kondisi serupa," tandasnya.

Melki juga mengkritik lambannya respons pemerintah daerah setempat. Ia mengaku telah menghubungi pimpinan daerah di Ngada, namun respons yang diterima dinilai terlambat.

"Mati hanya karena miskin. Agak terganggu juga saya. Saya punya keluarga juga, tangan saya susah juga. Saya WA pimpinan daerahnya lama juga merespons. Jadi saya minta orang saya sendiri turun cek," tandasnya.

Selain itu, Melki menyoroti absennya kehadiran pemerintah daerah saat pemakaman korban. Ia meminta Pemda Ngada bertanggung jawab penuh, termasuk mengurus makam korban secara layak.

"Pemerintah daerah harus segera mengurus makam anak tersebut. Kirim orang secara resmi dari Pemda Ngada, sebagai pemerintah kami gagal urus warga negara kalau begini. Malu saya sebagai Gubernur! Masa ada warga negara mati hanya gara-gara begini," pungkas Melki.

Simak Video "Video: Prabowo Targetkan Kemiskinan Turun di Rentang 6,0-6,5 Persen"


(nor/nor)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork