Deklarasi Piagam Rinjani, Seaplane dan Glamping Resmi Ditolak

Ahmad Viqi - detikBali
Rabu, 10 Des 2025 18:30 WIB
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama Kepala Balai TNGR Yarman Waru dan para jajaran stakeholder lain dan para penglingsir majelis adat Sasak deklarasi Piagam Gunung Rinjani di Narmada, Rabu (10/12/2025). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)
Lombok Barat -

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Yarman Waru mengikuti deklarasi Piagam Gunung Rinjani yang digelar Majelis Adat Sasak (MAS) di Narmada, Lombok Barat, NTB.

Kepala Balai TNGR Yarman Waru mengatakan deklarasi yang dilakukan bersama pemerintah, MAS, dan para penglingsir Sasak itu ditujukan untuk memperbaiki pengelolaan kawasan Rinjani. "Kita harap ke depan lebih baik lagi," kata Yarman usai kegiatan, Rabu (10/12/2025).

Dalam deklarasi tersebut, para penglingsir Sasak menegaskan larangan pembukaan jalur pendakian baru di Gunung Rinjani. Mereka juga menolak rencana pembangunan seaplane, glamping, dan kereta gantung di kawasan Rinjani.

"Pelarangan baru itu ya kita sepakati. Kita tetap berkomitmen Rinjani pakai 6 jalur yang ada," ujar Yarman.

Yarman memastikan isu jalur baru dari wilayah Lombok Barat melalui Hutan Sesaot yang berada dalam kawasan KPH Rinjani Barat hanya sebatas informasi yang beredar. Belum ada pengajuan resmi pembukaan jalur tersebut. "Jadi tidak ada jalur yang diusulkan. Ada jalur belum kita resmikan tapi masih dalam kawasan enam jalur. Jadi tidak ada jalur baru. Mari kita menjaga bersama-sama," katanya.

Yarman mendukung penolakan penglingsir Sasak terhadap rencana pembangunan seaplane, glamping di Danau Segara Anak, serta kereta gantung di kawasan hutan Karang Sidemen. Ia menegaskan rencana-rencana itu belum memiliki izin pemanfaatan kawasan hutan. "Kalau masyarakat nolak itu tidak akan kita bangun. Tidak ada ruang lagi kita sudah sampaikan itu bersama Gubernur NTB Pak Iqbal," tegasnya.

Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak Lalu Sajim Sastrawan menyampaikan deklarasi Piagam Gunung Rinjani digagas untuk menjaga kawasan hutan dan pelestarian Rinjani. Ia mengingatkan bahwa sebelum negara terbentuk, Rinjani merupakan milik bangsa Sasak, dan setelahnya dikelola TNGR.

"Jadi masyarakat merasa masih ada ketidakadilan dalam pengaturan itu. Sehingga kita bersama TNGR, Geopark, Pemrov NTB dan masyarakat lingkar Rinjani membangun kenyamanan dan keamanan di sana," kata Sajim.

Ia menekankan bahwa Rinjani adalah kawasan sakral yang diakui dunia sebagai taman nasional, geopark global, dan cagar biosfer UNESCO. "Jangan sampai kita naik ke sana malah bawa malapetaka. Masyarakat juga bingung ada rencana kereta gantung. Kita ingat kepercayaan makro cosmos bangsa Sasak Rinjani adalah tempat yang harus dijaga karena merupakan sumber kehidupan," ujarnya.

Sajim juga mengingatkan potensi kerusakan ruang hidup satwa. "Kita khawatir kalau ada pembangunan di Rinjani bisa mengganggu tata ruang dan binatang yang tinggal dan menetap di Rinjani. Kalau ada pesawat di sana. Banyak burung yang akan punah. Ini harus kita jaga," katanya.

Simak Video "Video: Aksi Aktivis Greenpeace Berjalan di Atas Tali dari Ketinggian"


(dpw/dpw)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork