detikBali
Round Up

Hal Penting dari Pemeriksaan Abah AIS soal Dugaan Pelecehan Seksual

Terpopuler Koleksi Pilihan
Round Up

Hal Penting dari Pemeriksaan Abah AIS soal Dugaan Pelecehan Seksual


Tim detikBali - detikBali

Mantan pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafaat, Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah, beserta istrinya, Hurmiati, seusai diperiksa polisi, Senin (28/9/2026).
Foto: Mantan pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafaat, Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah, beserta istrinya, Hurmiati, seusai diperiksa polisi, Senin (28/9/2026). (Edi Suryansyah/detikBali)
Lombok Tengah -

Total 52 pertanyaan dicecar penyidik Polresta Lombok Tengah terhadap Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah. Dia merupakan mantan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafaat yang menjadi terlapor kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwatinya.

Ada dua hal penting yang diungkapkan kuasa hukum AIS, Yuda Aditia Maatfa, dari pemeriksaaan tersebut. Pemeriksaan itu dijalani AIS di ruang Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Lombok Tengah. AIS yang didampingi kuasa hukumnya, Yuda Aditia Maatfa, baru keluar pada pukul 18.19 Wita. Total, dia diperiksa selama sembilan jam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Istrinya juga terlihat keluar dari ruang pemeriksaan. Keduanya diperiksa dalam penyelidikan kasus yang sama. "Ada 52 pertanyaan. Kita tiba jam 08.00, dua-duanya diperiksa Abah dan Umi," kata Yuda seusai mendampingi kliennya diperiksa, Senin (28/9/2026).

Yuda mengatakan pertanyaan penyelidik masih berkaitan dengan video investigasi BBC yang mengungkap dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwati Abah AIS.

ADVERTISEMENT

Abah AIS Banyak Membantah

Menurut Yuda, hal penting pertama yang menjadi catatan adalah AIS banyak membantah pertanyaan penyelidik. Ia menyebut kliennya tetap pada keterangan awal, yakni membantah melakukan pelecehan seksual terhadap santriwatinya.

"Pertanyaannya terkait yang di BBC itu dugaan pelecehan seksual. Kita tetap fokus sama laporan ini, kita tetap kooperatif menjawab, keterangan Abah tetap pada prinsipnya tidak merasa melakukan pelecehan terhadap santri-santrinya," tegasnya.

Yuda memastikan pihaknya akan terus kooperatif dalam proses penyelidikan. Ia menyerahkan proses pengungkapan kasus kepada penyelidik.

"Kami akan terus kooperatif dalam memberikan keterangan, supaya perkara ini terang benderang, kalau ada indikasi biar penyidik saja yang menentukan," bebernya.

Terkait informasi adanya korban tambahan dari LPA Mataram, Yuda enggan merespons. Dia mengatakan pihaknya masih fokus pada proses penyelidikan yang berjalan.

"Terkiat pengakuan korban kami tidak tahu ya. Itu kan dari pihak terlapor ya," imbuhnya.

Tuding Motif Lain

Yuda juga menegaskan Abah AIS masih membantah pernah melakukan pelecehan seksual terhadap santriwatinya. Hal kedua yang digarisbawahi, dia justru menyebut ada motif lain dari Yusron yang membuat cerita tersebut. Diketahui, Yusron yang bernama lengkap Moch Yusron Azzahidi adalah mantan santri yang melaporkan dan mengumpulkan bukti dugaan pelecehan seksual di Ponpes Abul Barokat Wannafaat.

"Pada intinya Abah membantah, tadi poinnya itu. Apa sih yang menjadi motif Yusron mengembangkan isu-isu kepada pondok, keterangan Abah tadi ada alasan menurut Abah tadi bahwa Yusron pernah dipecat dari pondok, karena dia merupakan santri pindahan pada kelas dua kemudian dia tidak pernah masuk sekolah," bebernya.

Yuda enggan menanggapi ketika ditanya apakah investigasi yang dibuat Yusron bersama BBC dilatarbelakangi dendam pribadi.

"Nah, itu saya tidak thau," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Unit PPA Polresta Lombok Tengah, Aiptu Pipin Setyaninggrum, membenarkan pemeriksaan terhadap Abah AIS.

"Iya diperiksa, tapi keterangannya besok aja ya," katanya.

Pipin menolak memberikan keterangan lebih lanjut kepada media. Dia meminta awak media menanyakan perkembangan pemeriksaan kepada Kasi Humas.

Dugaan Keterlibatan Orang Kepercayaan AIS

Sementara itu, meski AIS ngotot membantah, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, mengungkap adanya terduga pelaku lain dalam kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan di Abul Barokat Wannafaat di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Terduga pelaku berinisial M. Dia merupakan orang kepercayaan Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah.

"Dari 12 korban (yang sudah diperiksa) ini, kami mengerucut ke dua pelaku. Jadi tidak hanya satu pelaku, jadi ada dua pelaku," kata Joko kepada awak media saat mengunjungi Polresta Lombok Tengah, Senin (28/9/2026).

Joko menjelaskan M diduga melakukan aksinya dengan modus mengajarkan para santriwati ekstrakurikuler silat. Namun, saat mengajar itu terduga pelaku malah memegang area sensitif korban.

"Iya (ngajar), ustaz di sana. Yang sering ini bersama Abah. Pokoknya ngelatih bela diri lah," ujarnya.

Menurutnya, nama M ini memang sejak awal telah masuk dalam catatan awal yang dibuat oleh salah satu mantan santri, Yusron, dalam aduan awal. Di sisi lain, adanya pengakuan dari para korban ini sehingga menguatkan dugaan keterlibatan M.

"Pokoknya kita liat prosesnya ya," imbuhnya.

Joko menjelaskan dari 16 korban yang muncul saat ini tidak ada yang mengaku telah disetubuhi. Mereka mengaku hanya menjadi korban pencabulan dan percobaan pemerkosaan.

"Sampai sejauh ini nggak (yang disetubuhi). Tetapi kan dengan konsep KUHP baru kan sebenarnya perkosaan itu tidak hanya persetubuhan. Termasuk, mohon maaf ya, memasukkan jari di dalam kemaluan, atau kemudian disuruh melakukan oral, itu kan masuk perkosaan juga," pungkasnya.

Korban Bertambah Jadi 16 Orang

Bantahan AIS juga bertolak belakang dengan pengakuan sejumlah korban. Terungkap, jumlah korban kekerasan seksual dari AIS terus bertambah dan kini menjadi 16 orang. Jumlah korban ini sesuai data LPA Mataram. Sebanyak 12 di antara 16 korban sudah diperiksa sebagai saksi oleh Kepolisian Resor Kota (Polresta) Lombok Tengah.

"Kemarin saya update hari Sabtu itu kan (korbannya) 15. Tadi malam ada satu lagi yang menghubungi kami, juga menyatakan diri bahwa dia juga menjadi korban dari di pondok itu. Sehingga, total sampai hari ini ada 16 korban yang melapor ke kami," kata Ketua LPA Mataram, Joko Jumadi, kepada awak media saat mengunjungi Polresta Lombok Tengah, Senin.

Akademisi Universitas Mataram (Unram) ini mengatakan korban baru ini muncul karena Abah AIS membantah melakukan kekerasan seksual saat konferensi pers beberapa waktu lalu. Bantahan itu kemudian memantik keberanian korban lain untuk buka suara.

"Jadi ketika kemudian ada video bahwa dia itu bohong, itu fitnah, itulah yang kemudian mendorong korban-korban untuk speak up. Jadi fenomena Agus terulang di kasus ini," imbuh Joko.

LPA Mataram telah mendampi 12 korban kekerasan seksual dari Abah saat diperiksa penyidik Satreskrim Polresta Mataram. Menurut Joko, dari seluruh korban, ada terduga pelaku lain, yakni orang kepercayaan Abah. "Jadi tidak hanya satu pelaku, jadi ada dua pelaku," bebernya.

Modus Bejat Pelaku

Joko juga membeberkan modus bejat Abah AIS. Menurutnya, Abah AIS mengiming-imingi korban untuk dinikahi menjadi istri kedua. Setelah itu, Abah AIS mulai berani untuk menyentuh korban.

Berdasarkan pengakuan korban yang diterima Joko, mereka kebanyakan diminta untuk oral seks hingga diminta menelan sperma. Selain itu, pelaku juga memasukkan jarinya ke kemaluan korban sehingga menyebabkan pendarahan.

"Jadi dari korban ini ada yang diminta melakukan oral sampai kemudian, mohon maaf ya, diminta untuk menelan sperma. Ada juga yang dimasukkan jari sampai kemudian mengalami pendarahan," tutur Joko.

Abah AIS melakukan tindakan bejat itu di rumahnya. Ia melakukan tak mengenal waktu dalam melakukan kekerasan kepada santriwatinya, baik siang maupun malam.



(hsa/hsa)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads