Tumpek Uye, Tradisi Memuliakan Satwa di Bali

Putu Yonata Udawananda - detikBali
Sabtu, 05 Sep 2026 06:00 WIB
Ilustrasi - Prosesi perayaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang di Bali Zoo beberapa waktu lalu. (Foto: istimewa)
Denpasar -

Tumpek Uye atau yang juga disebut dengan Tumpek Kandang merupakan salah satu tradisi Hindu di Bali. Hari suci ini menjadi momentum untuk menghormati dan memuliakan keberadaan satwa atau hewan peliharaan.

Tumpek Kandang jatuh setiap Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Uye. Karena perhitungannya yang menggunakan pawukon, Tumpek Kandang dirayakan setiap 210 hari sekali seperti perayaan tumpek lainnya.

Saat Tumpek Uye, umat Hindu di Bali menggelar upacara dan melakukan persembahyangan untuk menyucikan satwa atau hewan peliharaan. Meski begitu, perayaan Tumpek Uye tidak bermaksud untuk menyembah binatang.

"Berbuatlah agar semua orang, binatang-binatang, dan semua makhluk hidup berbahagia." (Yajurveda XVI.48)

Kutipan kitab Yajurveda di atas memuat ajaran universal tentang kasih sayang dan keharmonisan hidup. Kutipan tersebut juga sangat erat kaitannya dengan perayaan hari suci Tumpek Uye atau Tumpek Kandang di Bali

Saat Tumpek Uye, pemujaan dilakukan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati dan Sang Hyang Rare Angon yang menjaga binatang. Biasanya, binatang-binatang tersebut akan dimandikan terlebih dahulu, diberikan sesajen, dan kemudian didoakan.

Upacara saat Tumpek Uye dilakukan sebagai wujud penghormatan manusia terhadap binatang yang telah memberi berbagai manfaat bagi manusia. Beberapa jenis binatang bahkan digunakan untuk sarana upacara. Bahkan, binatang peliharaan seperti ternak juga mendatangkan manfaat ekonomi bagi pemiliknya.

Dalam aspek religi, perayaan Tumpek Kandang juga memiliki bentuk pengamalan filsafat Hindu 'Tat Twam Asi' yang bermakna 'aku adalah engkau, engkau adalah aku'. Artinya, kasih sayang yang ditunjukkan pada hewan juga menunjukkan kasih sayang terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bentuk keharmonisan antara manusia dan hewan juga berkaitan dengan falsafah Tri Hita Karana yang menekankan konsep keseimbangan hidup. Konsep tersebut mengajarkan manusia untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama manusia (Pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).

Dalam konteks lebih luas, istilah 'Kandang' juga dimaknai sebagai upaya mengandangkan pikiran yang liar. Maka, Tumpek Kandang menjadi momen untuk mengendalikan pikiran atau keinginan yang bersifat seperti binatang.



Simak Video "Video Menang di Aragon, Marquez Kini Cuma Ketinggalan 19 Poin dari Martin"

(iws/iws)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork