4 Tradisi Unik Muharram di Lombok, Ada Tetulaq hingga Bisoq Keris

Arga Fahreza - detikBali
Senin, 15 Jun 2026 08:02 WIB
Alquran dan Benda Pusaka di Desa Tetebatu Lombok. Foto: Rachman_punyaFOTO
Mataram -

Tahun Baru Islam dimulai pada tanggal 1 Muharram atau Selasa, 16 Juni 2026. Perayaan pergantian tahun dalam kalender Hijriah ini berlangsung meriah di berbagai daerah, salah satunya di Pulau Lombok.

Masyarakat Lombok yang mayoritas muslim memiliki beragam tradisi unik untuk menyambut bulan Muharram. Beberapa di antaranya sudah berlangsung turun-temurun selama ratusan tahun. Mulai dari ritual memandikan keris dengan darah, hingga membuat bubur putih sebagai ungkapan syukur.

Lalu, apa saja tradisi bulan Muharram yang masih lestari di Pulau Lombok? Berikut rangkuman lengkapnya dari berbagai sumber.

Ritual Tetulaq Desa Pringgabaya

Tradisi Tetulaq di Desa Pringgabaya, Lombok Timur, digelar sebagai upaya melestarikan warisan budaya leluhur. Berdasarkan catatan sejarah, tradisi ini erat kaitannya dengan asal-usul terbentuknya pemukiman penduduk di desa tersebut.

Setiap hari Senin atau Rabu di awal bulan Muharram, warga berkumpul di Balai Desa Pringgabaya untuk menggelar Tradisi Tetulaq. Kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur yang diisi dengan doa bersama serta memasak sekitar 44 ekor ayam dan ketupat.

Bahan-bahan yang dipakai dalam tradisi ini masih tergolong sederhana dan mudah didapatkan masyarakat setempat. Alat yang digunakan pun tradisional, seperti sampak, bombong (anyaman daun kelapa), dan dulang.

Tak ketinggalan, ada juga ceret khusus berwarna kuning keemasan. Setiap bahan dan alat yang digunakan mengandung makna simbolis sebagai wujud harapan dan doa kepada Tuhan.

Bisoq Keris

Alquran dan Benda Pusaka di Desa Tetebatu Lombok Foto: Rachman_punyaFOTO

Keris merupakan senjata tradisional Nusantara yang dikenal memiliki kekuatan magis. Masyarakat Sasak di Lombok memiliki ritual khusus untuk menyucikan keris setiap malam 1 Muharram. Ritual ini dikenal dengan nama Bisoq Keris.

Prosesi penyucian keris biasanya berlangsung setelah salat Isya hingga menjelang dini hari. Yang menarik, keris-keris yang disucikan tidak hanya dibasuh dengan air, melainkan juga dicampur dengan jeruk nipis, bunga, minyak cendana, bahkan darah. Masyarakat setempat meyakini bahwa darah dapat memperkuat daya spiritual keris tersebut.

Roah Segare

Roah Segare di Lombok Barat Foto: (dok. Pemkab Lombok Barat)

Masyarakat Desa Kuranji Dalam, Kabupaten Lombok Barat, memiliki warisan budaya maritim bernama Roah Segare, yang juga dikenal sebagai ruwatan laut. Tradisi ini digelar setiap bulan Muharram sebagai wujud rasa syukur para nelayan dan warga pesisir.

Dalam pelaksanaannya, Roah Segare diisi dengan doa bersama, pembacaan barzanji, selakaran, serta zikiran. Puncak acaranya adalah membawa dulang penamat atau sesaji ke pantai, lalu dilarung ke laut. Tradisi khas Muharram di Lombok ini kini menjadi destinasi wisata budaya yang ramai dikunjungi wisatawan.

Tradisi Bubur Putiq dan Bubur Beaq

Bubur Putiq. Foto: iStock

Desa Songak yang terletak di Kabupaten Lombok Timur memiliki tradisi unik pembuatan Bubur Putiq. Tradisi ini berlangsung setiap tanggal 1 hingga 10 Muharram. Bubur Putiq dibuat dari bahan-bahan lokal, seperti kelapa dan gula merah, rukuq 5 biji, ketan sangrai, beras kuning, serta lingsar.

Setiap bahan dan elemen sesaji yang dihidangkan mengandung makna yang mendalam, karena mencerminkan pokok-pokok ajaran agama Islam, di antaranya syahadat, salat, puasa, takwa, hingga sedekah. Bubur Putiq kemudian dinikmati secara bersama-sama di lokasi tertentu, seperti makam keramat atau makam leluhur masyarakat setempat.

Demikian informasi mengenai tradisi yang ada di masyarakat Lombok. Semoga membantu!



Simak Video "Menonton Film Romantis di Pinggir Pantai Gili Trawangan Lombok"

(nor/nor)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork