Viral di media sosial (medsos) tarian erotis atau yang disebut joget anco-anco oleh masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tarian ini dinilai bertentangan dengan norma dan adat masyarakat Lombok.
Video joget anco-anco telah lama menjadi perbincangan warganet, dimana beberapa unggahan video menunjukan, dua sampai tiga orang perempuan menari sambil di sawer dengan uang puluhan ribu rupiah oleh beberapa pria sembari memeluk dan menyentuh bagian tubuh si penari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Dewan Kesenian Lombok Timur, Kake Aswan Kaelani, mengkritik joget ancok-ancok ini lantaran telah mengalami pergeseran makna dalam berkesenian. Menurutnya seni adalah bagian ekspresi bukan sebagai medium untuk aksi pornografi.
"Pada konteks erotis itu sangat bertentangan, namun dalam perspektif seni gerak tubuh mengikuti musik itu sah-sah saja, itu bagian ekspresi," kata Aswan, ditemui detikBali, Jumat (29/8/2025) sore.
Joget anco-anco sendiri bukan hal yang baru. Kemunculannya sudah lama serta menjadi perbincangan di jagat maya. Sehingga Aswan berpendapat untuk menertibkannya membutuhkan tindakan dan kesadaran semua lapisan masyarakat.
"Untuk menuntaskannya, ada pemerintah, ada perwakilan rakyat, kalau mereka mau buka mata permasalahan ini tidak akan berlarut-larut, namun belum ada respons dalam hal ini pemerintah daerah," kata Aswan.
Perubahan dalam berkesenian menurut Aswan tidak menjadi permasalahan karena seni sendiri akan terus beradaptasi dan berkembang seiring perubahan zaman. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika adanya suguhan seni yang bertentangan dengan masyarakat lokal di Lombok.
Joget anco-anco biasanya dijumpai pada acara tertentu seperti begawe (hajatan) dengan diiringi musik sembari ngibing dan melakukan gerakan tarian erotis. Tak sedikit dari pria yang nyawer kemudian menyentuh bagian tubuh penari joget anco-anco.
"Ini jadi masalah bersama, bukan hanya tugasnya pemerintah, tapi butuh kesadaran bersama untuk menertibkan tarian erotis ini," kata Aswan.
Aswan mengakui, Dewan Kesenian Lombok Timur sendiri belum melakukan diskusi bersama paguyuban yang memainkan joget anco-anco ini dikarenakan untuk menemukan lokasi keberadaanya masih belum ditemukan.
"Biasanya di acara hajatan atau Begawe, tapi lokasi titiknya itu belum kami temukan," ucap akademisi Universitas Hamzanwadi tersebut.
(hsa/hsa)