detikBali

Lebih Menguntungkan Dibanding Sapi Bali, Sapi Eksotis Jadi Primadona di NTB

Terpopuler Koleksi Pilihan

Lebih Menguntungkan Dibanding Sapi Bali, Sapi Eksotis Jadi Primadona di NTB


Sui Suadnyana, Ahmad Viqi - detikBali

Kepala Disnakkeswan NTB, Muhamad Riadi, saat diwawancarai di Kantor Gubernur NTB, Selasa (3/11/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)
Foto: Kepala Disnakkeswan NTB, Muhamad Riadi, saat diwawancarai di Kantor Gubernur NTB, Selasa (3/11/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)
Mataram -

Beberapa peternak di Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai melirik usaha penggemukan sapi eksotis jenis brahman cross, simental, limosin hingga belgian blue. Populasi usaha penggemukan sapi eksotis ini diyakini akan terus tumbuh di Bumi Gora.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB, Muhamad Riadi, mengatakan usaha penggemukan sapi eksotis diyakini jauh lebih menguntungkan dibandingkan sapi bali.

Menurut Riadi, usaha penggemukan sapi eksotis sudah berjalan di sejumlah kabupaten/kota di NTB. Melalui pola penggemukan yang tepat, sapi jenis eksotis kini menjadi primadona baru bagi para peternak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah banyak peternak yang memang bergerak di bidang penggemukan dan pengembangan ternak, rata-rata mulai menyukai sapi eksotis," ujar Riadi di Kantor Gubernur NTB, Selasa (3/11/2026).

ADVERTISEMENT

Sapi-sapi eksotis tersebut dikembangkan melalui kawin silang dengan sapi bali. Tujuannya adalah untuk menghasilkan keturunan dengan potensi pertumbuhan bobot badan yang jauh lebih optimal.

Sebaran usaha sapi eksotis ini sudah merata di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. "Di NTB sudah banyak. Di Dompu ada, Bima ada, KSB juga ada. Tetapi yang paling banyak di Lombok, kemudian baru di KSB," jelas Riadi.

Riadi membeberkan keunggulan paling mencolok dari sapi eksotis terletak pada Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH). Sapi bali secara genetik memiliki batas pertumbuhan maksimal sekitar 0,9 kilogram 9 (kg) per hari. Sementara eksotis mampu melesat hingga 1,5 kg per hari apabila didukung pakan dan pemeliharaan yang tepat.

Mantan Kepala Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) NTB mengungkapkan selisih PBBH 0,5 kg itu menjadi keuntungan bagi peternak. Musababnya, harga sapi eksotis hidup berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kg.

"Dalam satu siklus penggemukan saja, potensi keuntungan bersih bisa menembus angka sekitar Rp 2 juta per ekor. Kan kalau dihitung, kenaikan berat badan harian dikalikan harga per kilogram berat hidup, itu menjadi keuntungan tambahan bagi peternak," terang Riadi.

Tak hanya itu, postur tubuh sapi eksotis ini juga dikenal jumbo. Bahkan, sempat dipamerkan sapi eksotis dengan bobot fantastis yang mencapai 1,3 ton dalam kontes ternak yang digelar di Barabali, Lombok Tengah.

Meski potensi ekonominya sangat menggiurkan, Riadi menilai pendampingan pengembangan sapi eksotis masih perlu terus diperkuat. Pendampingan intensif dilakukan Disnakkeswan NTB, mulai dari pembinaan peternak, pengembangan bibit hingga pola pemeliharaan yang baik di peternak.

Riadi optimistis pengembangan peternakan sapi eksotis ini tidak hanya meningkatkan pendapatan peternak, tetapi juga memperkuat posisi NTB sebagai salah satu sentra peternakan berkualitas di tanah air.

"Pengembangan sapi eksotis diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas populasi ternak dan memperkuat sektor peternakan NTB ke depan," jelas Riadi.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads