detikBali

Putri Suastini Soroti Penenun Bali yang Kian Berkurang

Terpopuler Koleksi Pilihan

Putri Suastini Soroti Penenun Bali yang Kian Berkurang


Sui Suadnyana, Fabiola Dianira - detikBali

Fashion show kain tradisional dalam acara Journey of Wastra di Hotel Kartika Plaza, Badung, Jumat (2/10/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Foto: Fashion show kain tradisional dalam acara Journey of Wastra di Hotel Kartika Plaza, Badung, Jumat (2/10/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Badung -

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), Ni Putu Putri Suastini, menyoroti kian berkurangnya generasi muda di Pulau Dewata yang mau jadi penenun. Kondisi itu terjadi di tengah kain endek yang kian populer sebagai salah satu wastra khas Bali.

Istri Gubernur Bali, Wayan Koster, itu menilai pelestarian kain endek tidak cukup hanya dengan membanggakan dan menggunakannya, tetapi juga harus memastikan keberadaan para penenun tetap terjaga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Putri Suastini, produksi kain endek yang beredar di Bali bahkan telah lama dipesan dari luar daerah, salah satunya dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah (Jateng). Kondisi tersebut membuat masyarakat Bali kehilangan manfaat ekonomi dan kesempatan untuk bekerja sebagai penenun.

"Para pedagang endek di Bali itu sudah mungkin 25 tahun yang lalu itu memesan endeknya di Jawa, di Troso," ujar Putri Suastini dalam acara Journey of Wastra di Hotel Kartika Plaza, Badung, Jumat (2/10/2026).

ADVERTISEMENT

Kondisi ini, tutur Putri Suastini, berlangsung ketika masyarakat Bali makin senang menggunakan dan membanggakan kain endek. Namun, pada saat yang sama, makin sedikit masyarakat Bali yang meneruskan keterampilan menenun.

"Dulu waktu periode pertama kami datang ke desa itu, hanya ada beberapa komunitas. Sekarang sudah tiga desa menenun, tetapi Bali makin memakai kain endeknya, makin jarang anak-anak kita yang mau menenun," ungkap Putri Suastini.

Putri Suastini menilai persoalan utama bukan hanya soal kemampuan menenun, tetapi juga kesejahteraan para penenun. Menurutnya, anak-anak muda enggan meneruskan pekerjaan orang tua karena melihat profesi tersebut belum mampu memberikan kehidupan yang sejahtera.

"Sampai titiang disarankan untuk bikin sekolah tenun, saking tidak maunya anak-anak muda menenun. Karena mereka melihat orang tuanya menenun, orang tuanya menjual kain tidak sejahtera hidupnya. Mereka lebih memilih keluar menjadi tenaga kerja di negara lain," jelas Putri Suastini.

Menurut Putri Suastini, jika profesi penenun mampu memberikan kehidupan yang layak, termasuk menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan keluarga, generasi muda akan memiliki alasan untuk meneruskan pekerjaan tersebut.

Putri Suastini mendorong adanya pembinaan terhadap para penenun agar tidak hanya memiliki keterampilan produksi, tetapi juga kemampuan berwirausaha dan mengembangkan pasar. Pendekatan kepada generasi muda perlu dilakukan sejak dini untuk mencintai kain tradisional.

"Anak-anak muda paling tidak yang kita ajarkan dulu itu adalah mencintai. Jadi dekatkan mereka. Kalau tidak dekat kan mereka enggak merasa, kan apa namanya 'tak kenal maka tak sayang'," ujar Putri Suastini.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads