detikBali

Wamendag Klaim Buah Tropis RI Diminati Pasar Internasional

Terpopuler Koleksi Pilihan

Wamendag Klaim Buah Tropis RI Diminati Pasar Internasional


Fabiola Dianira - detikBali

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri saat melepas ekspor salak asal Bali di The Kranjang, Kuta, Badung, Kamis (6/8/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri saat melepas ekspor salak asal Bali di The Kranjang, Kuta, Badung, Kamis (6/8/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Badung -

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong peningkatan ekspor komoditas buah tropis Indonesia. Dyah Roro mengeklaim buah-buahan tropis Indonesia seperti salak gula pasir dari Bali diminati pasar internasional.

"Dengan berbagai potensi yang dimiliki, khususnya kalau di Provinsi Bali tadi Bapak Gubernur cerita banyak sekali mengenai potensi-potensinya, termasuk salah satunya tropical fruits, baik itu manggis, salak, dan berbagai macam buah-buahan lainnya, ini sangat diminati oleh pasar internasional," ujar Dyah Roro di The Kranjang, Kuta, Badung, Bali, Kamis (6/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kesempatan itu, Roro bersama Gubernur Bali dan Ketua Umum DPD GPEI Bali melepas ekspor salak gula pasir asal Bali ke China sebanyak 3,5 ton. Nilai ekspor salak gula pasir tersebut mencapai US$ 13 ribu.

"Baru saja kami lakukan pelepasan ekspor khusus untuk buah salak, yang tadi itu 3,5 ton. Tentu ini hanya salah satu dari berbagai macam pelaku usaha yang selama ini melakukan kegiatan ekspor," imbuh Dyah Roro.

ADVERTISEMENT

Dyah Roro juga memuji cokelat premium asal Bali yang dinilai memiliki potensi besar untuk menembus pasar ekspor. Menurutnya, kualitas produk hingga pengemasan cokelat premium tersebut sudah memenuhi standar internasional.

"Di Bali ini kan cokelat premiumnya keren-keren. Dari segi kemasannya, dari segi sajiannya, itu sangat berstandar internasional. Nah, ini salah satu potensi yang saya rasa menjanjikan ke depannya," imbuhnya.

Pemerintah, dia berujar, menargetkan nilai ekspor Indonesia pada 2026 mencapai US$ 315 miliar. Angka tersebut meningkat dari target awal sebesar US$ 294 miliar.

Di sisi lain, dia menyebut sejumlah komoditas ekspor Indonesia memiliki prospek cerah. Misalkan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), besi dan baja, produk perikanan berupa ikan beku dan udang, hingga kopi dan kakao.

Dyah Roro menjelaskan masing-masing negara tujuan ekspor memiliki persyaratan yang berbeda. Ia mencontohkan pasar Uni Eropa yang mengharuskan standar keberlanjutan seperti carbon border adjustment mechanism (CBAM) dan European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Selain mempertahankan pasar yang sudah ada, Kementerian Perdagangan juga membidik kawasan Asia Tengah dan Afrika. Ia menyebut dua kawasan tersebut berpotensi besar sebagai tujuan ekspor produk-produk Indonesia.

"Di Central Asia, itu ada Uzbekistan, ada macam-macam. Selain itu Afrika, Kenya, Nigeria, itu pasarnya gede," pungkasnya.



(iws/iws)











Hide Ads