Tim Satgas Pangan Kota Denpasar memantau stok pasokan dan harga pangan di Pasar Kreneng dan Pasar Badung menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Hari Raya Galungan, Kamis (11/6/2026).
"Tadi kita sudah mengecek stok dan harga menjelang HBKN hari Raya Galungan," kata Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar, Ni Luh Ketut Sri Yuani.
Berdasarkan hasil pemantauan, sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan harga. Meski demikian, ketersediaan pasokan masih terbilang aman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Pasar Kreneng, harga bawang merah mencapai Rp 50 ribu per kilogram, bawang putih Rp 40 ribu, cabai kecil Rp 70 ribu, cabai merah besar Rp 50 ribu, cabai keriting Rp 45 ribu per kilogram, gula curah Rp 17.500, daging ayam Rp 35 ribu, daging babi Rp 80 ribu, dan daging sapi Rp 120 ribu per kilogram.
Sementara itu, beras premium dijual Rp 80 ribu per lima kilogram, beras SPHP Rp 60 ribu per lima kilogram, minyak Bimoli Rp 24 ribu per liter, minyak KITA Rp 15.700 per liter, serta telur tanggung Rp 55 ribu per krat.
Di Pasar Badung, harga bawang merah tercatat Rp 55 ribu per kilogram, bawang putih Rp 45 ribu, cabai kecil Rp 70 ribu, cabai merah besar Rp 45 ribu, cabai keriting Rp 45 ribu, gula curah Rp 18.500 per kilogram, beras premium Rp 85 ribu dan beras SPHP Rp 60 ribu per lima kilogram, minyak Bimoli Rp 25 ribu serta minyak KITA Rp 15.700 per liter.
"Telur tanggung Rp 55 ribu perkrat, daging ayam Rp 35 ribu, daging babi Rp 80 ribu dan sapi Rp 110 ribu perkilo," jelasnya.
"Untuk hasil lainnya pasokan dan ketersediaan di dua pasar aman. Ada beberapa komoditas mengalami kenaikan namun masih terjangkau masyarakat," imbuh Sri Yuani.
Sementara itu, Kabid Metrologi dan Tertib Niaga Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar, I Gusti Bagus Aditia Wardhana, mengatakan ketersediaan stok bahan pokok di pasar saat ini masih aman.
"Kemungkinan terjadi kenaikan, karena hari raya maupun karena harga BBM. Namun perhari ini, harga masih stabil untuk cabai besar, cabai kecil, bawang merah dan bawang putih," jelasnya.
Harga Bunga di Pasar Baha Naik
Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, pedagang di Pasar Bunga Baha, Badung, mulai menaikkan harga komoditas bunga akibat meningkatnya permintaan. Salah satu komoditas yang mengalami kelangkaan pasokan di tingkat petani adalah bunga kembang seribu atau kembang bokor biru.
"Bunga kembang biru ini pas sedikit panen, langka. Pas juga momen Galungan ini permintaan tentu naik, harganya sudah mahal," kata pedagang bunga, Putu Bayu, saat ditemui di Pasar Bunga Baha, Kamis siang (11/6/2026).
Dalam kondisi normal, harga kembang biru berada di kisaran Rp 15 ribu per kilogram. Namun, minimnya hasil panen membuat harga komoditas tersebut melonjak hingga Rp 45 ribu per kilogram di tingkat pedagang.
"Per kilogram sekarang saya bisa jual Rp 45 ribu per kg. Itu sudah dapat untung cuma Rp 2 ribuan, pernah harganya Rp 5 ribu per kg kalau pas musim panen, melimpah barangnya," sambung Putu Bayu.
Kenaikan harga juga terjadi pada bunga pacar putih yang sebelumnya dijual sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram. Pedagang yang mengambil pasokan langsung dari petani masih bisa menawarkan harga lebih rendah dibandingkan pasar umum.
"Kalau di pasar umum harga jualnya itu sampai Rp 25 ribu, kalau saya jual ini antara Rp 17 ribu sampai dengan Rp 18 ribu per kg karena tidak lewat pengepul lagi. Saya jual langsung, ya ada kenaikan lah dari hari biasa bisa Rp 10-15 ribu per kg," tutur penjual bunga pacar putih, Kadek Ratna.
Pemkab Badung menilai lonjakan harga yang terjadi di sejumlah pasar masih dalam batas wajar karena tingginya permintaan masyarakat menjelang hari raya.
Salah satunya di Pasar Baha, Kecamatan Mengwi, yang memiliki karakteristik sebagai pusat grosir bunga. Pasar tersebut dinilai masih mampu menawarkan harga lebih murah dibandingkan pasar umum.
Pemkab Badung juga memastikan ketersediaan bahan pangan pokok, terutama beras, dalam kondisi aman. Berdasarkan hasil pemantauan, stok beras saat ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga lima sampai enam bulan ke depan.
"Ya kalau bahan pokok untuk beras, sebagaimana tadi kami cek di Bulog Sempidi, stoknya aman 5 sampai 6 bulan ke depan. Jadi setiap hari paling tidak ada 2.500 ton itu tersedia ya, stok beras idle," terang I Made Agus Aryawan.
Ketersediaan beras turut didukung panen raya yang berlangsung di sejumlah wilayah subak. Di Subak Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, hasil panen mencapai lebih dari 70 ton gabah dari lahan sekitar 130 hektare. Sementara itu, luas panen di Subak Lepud mencapai lebih dari 250 hektare.
"Di Subak Blahkiuh itu ada sekitar 70 ton lebih gabah hasil panen dengan luas panen sekitar 130-an hektar. Lalu luas lahan panen di Subak Lepud mencapai lebih dari 250 hektar dengan tingkat produktivitas yang cukup bagus. Rata-rata produktivitas lahan di kedua subak tersebut berada di angka 6,3 ton hingga 7,5 ton gabah kering per hektar," urai I Made Agus Aryawan.
Selain beras, Pemkab Badung juga memantau harga babi hidup di tingkat peternak yang masih berada pada kisaran Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Adapun harga daging babi di pasar tradisional dijual di bawah Rp 100 ribu per kilogram.
"Salah satu peternak di Ayunan kami cek, terlihat ada stabilitas harga yang cukuplah ya, tidak terlalu signifikan kenaikannya. Kalau harga tabelnya itu sekitar Rp 38 ribu sampai Rp 40 ribu lah ya, masih belum bersih atau dipotong. Sedangkan yang sudah bersih, itu daging ya, sekitar Rp 90 ribu sampai Rp 95 ribu, itu di pasar umum," kata Agus.
Menurutnya, stok daging untuk kebutuhan pasar tradisional masih dapat dipenuhi secara normal dari peternak. Namun, untuk kebutuhan dalam jumlah besar, masyarakat disarankan melakukan pemesanan lebih awal agar ketersediaan stok tetap terjamin.