Round Up

Dugaan Game Horor di Balik Siswi SD Lompat dari Lantai 3 Pasar

Tim detikBali - detikBali
Kamis, 23 Apr 2026 07:15 WIB
Foto:TKP insiden bocah SD terjatuh dari lantai tiga di Pasar Desa Serangan, Denpasar, Bali, (21/4/2026). (Foto: Maria Christabel DK/detikBali)
Denpasar -

Motif KA (13) nekat meloncat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan, Denpasar, masih misteri. Namun, ada dugaan siswi sekolah dasar (SD) itu terpengaruh oleh game horor.

Sejauh ini, KA belum bisa dimintai keterangan atas insiden tersebut. Sebab, KA masih dalam masa pemulihan pasca operasi. Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanitreskrim) Polsek Denpasar Selatan Iptu Azel Arisandi, mengatakan kondisi korban masih syok sehingga pemeriksaan belum bisa dilakukan.

"Sampai saat ini kami belum bisa melakukan pemeriksaan terhadap korban. Mengingat korban masih masa pemulihan dan masih shock akibat kejadian," ujarnya kepada detikBali, Rabu (22/4/2026).

Meski demikian, polisi telah melakukan pendalaman melalui analisis digital forensik terhadap video yang beredar. Hasilnya, ditemukan bahwa korban menggunakan lagu berjudul My Time milik Bo En, yang diketahui juga digunakan dalam game Omori.

Dalam video yang beredar, terdengar lagu yang diputar siswi tersebut merupakan soundtrack dari salah satu game horor-psikologis. Warganet kemudian mengaitkan kejadian itu dengan game tersebut.

Sejumlah warganet berkomentar bahwa pada akhir permainan, tokoh utamanya melompat dari gedung. Muncul pula spekulasi bahwa siswi tersebut terinspirasi dari game Omori. Sejumlah psikolog pun menyoroti peristiwa ini.

Dorongan Sesaat

Psikolog Wangsa Ayu Vidya Loka menjelaskan, dari perspektif psikologis, otak anak dan remaja, terutama bagian prefrontal cortex yang berfungsi untuk pengambilan keputusan, kontrol impuls, dan pertimbangan konsekuensi, belum berkembang sepenuhnya.

"Dalam situasi tertentu, anak bisa melakukan tindakan ekstrem bukan karena benar-benar ingin mengakhiri hidup, tetapi karena dorongan sesaat, keinginan mencoba, mencari perhatian, atau mengikuti sesuatu yang dilihat tanpa memahami sepenuhnya makna dan akibatnya," kata Vidya, Rabu (22/4/2026).

Vidya mengingatkan agar keterlibatan game dalam kasus ini dilihat secara hati-hati, meski konten seperti game horor-psikologis berpotensi kuat memengaruhi anak. Menurutnya, anak dan remaja memang mudah terpengaruh oleh hal yang mereka konsumsi, termasuk game, musik, atau konten visual.

"Terutama jika ada kedekatan emosional dengan karakter, konten tersebut memberikan kesan dramatis atau bermakna bagi mereka, anak sedang dalam kondisi psikologis yang rentan," ungkap dokter yang juga penulis itu.

Namun, Vidya menegaskan bahwa pengaruh game Omori tidak serta-merta menyebabkan anak meniru perilaku tersebut. Pengaruhnya biasanya bersifat pemicu atau penguat, bukan penyebab utama.

"Artinya, jika memang ada pengaruh kemungkinan besar itu terjadi karena sudah ada kondisi lain yang membuat anak lebih rentan untuk meniru," sambungnya.




(hsa/hsa)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork