Harga Emas Diprediksi Naik pada Desember 2025, Pengamat Ungkap Alasannya

Nasional

Harga Emas Diprediksi Naik pada Desember 2025, Pengamat Ungkap Alasannya

Herdi Alif Al Hikam - detikBali
Minggu, 30 Nov 2025 22:27 WIB
Harga Emas Hari Ini di Jogja 13 November 2025: LM-Pegadaian Kompak Melejit!
Ilustrasi emas. (Foto: Robert Lens/Pexels)
Jakarta -

Harga emas kemungkinan akan menguat pada Desember 2025. Perkiraan kenaikan emas didorong oleh berbagai faktor, salah satunya karena banyak sentimen pendukung luar negeri, khususnya dari Amerika Serikat (AS).

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan emas berpotensi naik ke level US$ 4.263 per troy ons atau sekitar Rp 2,44 juta per gram untuk harga domestik. Secara mingguan emas bisa menguat lagi sampai US$ 4.328 per troy ons atau sekitar Rp 2,58 juta per gram.

"Tetapi, kalau seandainya naik di hari Senin, kemungkinan besar di US$ 4.263 per troy ons. Kemudian, logam mulianya di Rp 2,44 juta, itu di resis yang pertama," ungkap Ibrahim dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (30/11/2025) dilansir dari detikFinance.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ibrahim, ada optimisme di pasar setelah pemerintahan federal AS kembali aktif setelah mengalami shutdown. Sebab, data perekonomian AS akan kembali diumumkan untuk September dan Oktober setelah keduanya tidak bisa diumumkan karena shutdown terjadi.

ADVERTISEMENT

Buktinya adalah data ekonomi September macam inflasi dan tenaga kerja yang menunjukkan angka positif saat diumumkan usai pemerintahan federal shutdown. Data ekonomi itu bisa saja mendorong Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) untuk melakukan penurunan suku bunga yang pada akhirnya menguatkan harga emas.

"Kemungkinan besar harga emas dunia maupun logam mulia ini akan mengalami kenaikan dalam awal-awal bulan Desember terutama adalah di minggu pertama. Yang pertama adalah kita tahu bahwa pasca pemerintahan federal Amerika libur panjang 43 hari ya banyak sekali data yang tidak dirilis," jaga Ibrahim.

Penurunan suku bunga juga tampak makin nyata karena Presiden Donald Trump akan mencalonkan Kevin Hassett yang saat ini menjadi Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS untuk menjadi Gubernur The Fed yang baru menggantikan Jerome Powell yang akan selesai masa tugasnya Mei 2026. Mengingat Hassett adalah tangan kanan Trump, kemungkinan penurunan suku bunga akan dilakukan.

"Kemungkinan besar dia akan diterima karena di Kongres mayoritas itu adalah pendukung Trump dari Partai Republik. Nah sehingga apa? Sehingga, di tahun 2026 kemungkinan besar penurunan suku bunga itu akan lebih banyak lagi," ujar Ibrahim.

"Trump sendiri dari awal dia menginginkan bahwa Bank Sentral Amerika itu harus menurunkan suku bunga ya kembali ke sebelumnya di 0 sampai 0,25%. Nah ini yang membuat dolar kembali lagi mengalami pelemahan dan ini yang membuat harga emas dunia kembali mengalami penguatan," tambah Ibrahim.

Kondisi Dalam Negeri

Sementara kenaikan harga emas di dalam negeri didorong oleh masalah permintaan dan penawaran. Stok emas di dalam negeri, jelas Ibrahim, mengkhawatirkan setelah masalah pada PT Freeport yang masih sulit melakukan produksi setelah sederet kejadian di tambang dan juga smelternya.

"Terkait masalah supply dan demand permintaan logam mulai dan emas di Indonesia cukup tinggi karena Freeport baru bisa produksi bulan April, kemungkinan Mei itu baru menghasilkan logam mulia," papar Ibrahim.

Freeport awalnya mengasumsikan dapat memproduksi emas 50 ton, kini cuma bisa memproduksi 25 ton saja. Artinya ada penurunan pasokan emas di dalam negeri yang memicu naiknya harga emas.

"Dengan adanya permasalahan teknis di lapangan, ini yang membuat harga emas ini walaupun turun akan terbatas, tetapi naik akan tinggi karena supply demand tidak seimbang," jelas Ibrahim.

Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!




(iws/iws)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads