Hari Santri Nasional 2026: Sejarah, Tema, hingga Filosofi Logo

Mariana Yaroh - detikBali
Rabu, 21 Okt 2026 06:30 WIB
Logo Hari Santri Nasional 2026. (Foto: Dok. Kemenag RI)
Denpasar -

Hari Santri Nasional (HSN) setiap tanggal 22 Oktober. Tahun ini, Hari Santri Nasional kembali diperingati pada Kamis, 22 Oktober 2026. Simak sejarah, tema, hingga filosofi logo Hari Santri 2026 berikut ini.

Peringatan Hari Santri Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Keppres ini menandai pengakuan negara terhadap peran krusial santri, kyai, dan pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain itu, peringatan Hari Santri juga menjadi momen mengenang perjuangan para ulama dan santri memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan. Peringatan ini turut mengenang peristiwa Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari pada tahun 1945.

KH Hasyim Asy'ari merupakan sosok yang menggerakkan perlawanan santri terhadap penjajahan. Berikut adalah ulasan mengenai Hari Santri Nasional 2026.

Sejarah Hari Santri

Dilansir dari laman Kemenag NTT, pasca Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, kondisi Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari penjajah. Saat itu, tentara Sekutu yang dibonceng oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) kembali ingin menduduki Indonesia setelah kekalahan Jepang melawan Sekutu.

Atas persetujuan Kyai Hasyim Asy'ari, dibentuklah Laskar Hizbullah pada November 1943 sebagai salah satu upaya mempersiapkan perjuangan. Laskar ini menjadi wadah bagi para pemuda, termasuk santri, untuk memperoleh pelatihan militer sebagai bekal menghadapi ancaman penjajah.

Latihan pertama di Cibarusa, Bogor, pada awal 1944 diikuti 150 pemuda dari berbagai daerah di Jawa dan Madura. Kembalinya penjajah setelah proklamasi membuat Presiden Soekarno mengirim utusan dan meminta pandangan Kyai Hasyim Asy'ari.

Kyai Hasyim lalu mengumpulkan para ulama se-Jawa dan Bali di Kantor Nahdatul Ulama (NU) Surabaya pada 21-22 Oktober 1945. Perkumpulan tersebut melahirkan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945.

Resolusi tersebut menyerukan kewajiban umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan. Seruan ini turut membangkitkan semangat perlawanan rakyat dan santri dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 serta pertempuran di sejumlah daerah lain, seperti Semarang dan Ambarawa.

Selain melalui perjuangan bersenjata, ulama pesantren terus mengobarkan semangat jihad untuk mempertahankan kedaulatan negara. Dalam Muktamar NU ke-16 di Purwokerto pada Maret 1946, KH Hasyim Asy'ari kembali menegaskan pentingnya kemerdekaan sebagai syarat bagi kebangkitan umat. Perjuangan tersebut mencerminkan semangat hubbul wathon minal iman, yaitu cinta tanah air sebagai bagian dari iman.

Tema Hari Santri Nasional 2026

Mengutip dari laman kemanag.go.id, Kementerian Agama (Kemernag) secara resmi meluncurkan tema dan logo Hari Santri Nasional 2026. Peringatan Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema "Santri Menguat Negeri Maju Indonesia Emas".

Tema ini menegaskan bahwa kiprah dan pengabdian santri senantiasa relevan dari masa ke masa, dimulai dari perjuangan kemerdekaan Indonesia, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, ekonomi, hingga teknologi. Kiprah santri, ulama, dan pesantren juga berkontribusi pada penyelarasan nilai agama dan kebangsaan dalam kehidupan masyarakat.

Adapun, 'Menguat Negeri' artinya santri sebagai bagian dari solusi atas tantangan bangsa. Pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi bangsa yang memiliki pemahaman spiritual dan ilmu yang mendalam sekaligus berkarakter produktif, kreatif, dan inovatif. Berbekal nilai keislaman, santri juga diharapkan mampu merawat persatuan, keberagaman, dan kemandirian bangsa.

Sementara itu, 'Menuju Indonesia Emas' dimaknai sebagai tujuan bersama mempersiapkan generasi unggul yang menentukan wajah Indonesia tahun 2045. Pesantren dinilai sebagai salah satu lembaga yang dapat mempersiapkan dan mewujudkan masa depan tersebut.

Filosofi Logo Hari Santri 2026

Kemenag juga meresmikan logo Hari Santri Nasional 2026 yang mengusung konsep filosofi anyaman atau ikatan dinamis. Bentuk tersebut mencerminkan kebersamaan, persatuan, dan keberlanjutan perjuangan santri menghadapi tantangan zaman.

Struktur logo memiliki nilai-nilai filosofi yang merepresentasikan posisi santri, pesantren dan masyarakat. Elemen jaringan antarunsur dalam logo melambangkan kebersamaan yang menciptakan kekuatan, sebagaimana sapu lidi yang sangat terbatas jika hanya berdiri sendiri, tetapi ketika dihimpun menjadi ikatan maka melahirkan kekuatan bagi seluruhnya.

Dua Lingkaran merepresentasikan dua pijakan hidup santri yaitu beragama dan bernegara. Pada bagian bawah logo, terdapat poros pondasi yang menggambarkan prinsip dasar langkah dan kontribusi santri.

Pada bagian atas, terdapat lingkaran yang menjadi simbol masa depan, harapan, dan usaha mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ketebalan garis dan bentuk simetris pada logo melambangkan kesatuan, keselarasan, serta keseimbangan antarunsur.

Sementara itu, warna biru toska merepresentasikan keterbukaan dan pembaruan, sedangkan warna keemasan melambangkan cita-cita dan pencapaian menuju Indonesia Emas. Kombinasi keduanya mencerminkan semangat santri untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.



Simak Video "Video Pesan Prabowo untuk Hari Santri: Penjaga Moral-Pelopor Kemajuan"

(iws/iws)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork