Bagi warga Celukan Bawang, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, perairan lepas pantai adalah sumber penghidupan dari generasi ke generasi. Ratusan warga Celukan Bawang hingga kini masih menggantungkan hidup dari hasil laut sebagai nelayan.
Namun, keberadaan nelayan di kawasan pesisir itu dinilai makin terhimpit di tengah rencana pengembangan Celukan Bawang sebagai kawasan industri dan energi. Termasuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di area Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sudah beroperasi.
Nelayan yang tersisa perlahan mengarahkan anak-anak mereka supaya mencari jalan penghidupan yang baru seiring menurunnya penghasilan dari melaut. Kondisi tersebut tergambar dalam film 'Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali' yang berangkat dari hasil riset Rhizoma Indonesia.
"Nelayan yang ada sekarang sebenarnya banyak juga yang mendorong anak-anaknya, generasi mudanya, untuk tidak usah melaut lagi. Karena tidak ada masa depan," papar periset Rhizoma Indonesia, Amanda Paramerta, di Denpasar, Sabtu (10/10/2026).
Amanda mengungkapkan terdapat 292 nelayan yang tergabung dalam enam kelompok nelayan di sepanjang garis Pantai Celukan Bawang. Sebagian dari mereka mulai mencari alternatif pekerjaan lain lantaran penghasilan sebagai nelayan tak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berkurangnya hasil tangkapan akibat berdirinya PLTU yang sudah beroperasi memaksa nelayan harus melaut lebih jauh. Walhasil, mereka memerlukan modal bahan bakar yang lebih besar lagi.
Menurut Amanda, kondisi itu berpotensi semakin parah dengan rencana pembangunan PLTGU. Berdasarkan hasil riset yang dia lakukan, sekitar 44,24 persen jalur tangkap nelayan akan berhimpitan dengan jalur pelayaran PLTGU.
"Muncul pertanyaan, kalau misalkan PLTGU jadi dibangun, apakah dampaknya akan double?" ungkapnya.
PLTGU Celukan Bawang telah masuk sebagai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 untuk Provinsi Bali.Karena masih rencana, Amanda berujar, dampak yang akan dihasilkan dari PLTGU Celukan Bawang masih berupa proyeksi.
Selain potensi dampak sosial, Amanda menerangkan PLTGU Celukan Bawang juga menimbulkan potensi dampak lingkungan. Potensi munculnya air bahang atau air hasil pembuangan operasional PLTGU dengan suhu yang lebih tinggi dikhawatirkan akan mengancam biota laut di perairan tersebut.
Meningkatnya suhu air juga dinilai berpotensi mengancam keberadaan karang yang kehilangan mikroalga sebagai makanannya. Selain itu, Amanda menyebut proyek tersebut juga berpotensi menimbulkan kebisingan bawah laut, sedimentasi, hingga ledakan pipa LNG.
Simak Video "Video: Perampok yang Tewaskan Lansia di Bali Pakai Hasil Curian untuk Judol"
(iws/iws)