Trump Kembali Ancam Iran, Opsi Serangan Militer Masih Terbuka

Novi Christiastuti - detikBali
Sabtu, 10 Okt 2026 15:04 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: REUTERS/Nathan Howard)
Denpasar -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuka peluang serangan militer terhadap Iran. Trump menyebut kondisi Iran kini mengalami kegagalan total, meski Washington dan Teheran masih melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang.

"Kami mungkin saja melakukannya. Kita lihat saja nanti," kata Trump saat ditanya mengapa AS tidak mengambil tindakan militer terhadap Iran saat ini, seperti dilansir detikNews dari Anadolu Agency, Sabtu (10/10/2026).

"Namun menurut saya, mereka sedang mengalami kegagalan total. Negara mereka sedang mengalami kegagalan parah. Militer mereka telah dikalahkan. Mereka tidak memiliki angkatan laut. Mereka tidak memiliki angkatan udara. Inflasi mereka mencapai 300 persen, dan kondisi Iran sangat buruk," sebut Trump.

Trump tidak merinci langkah yang mungkin diambil pemerintahannya ataupun waktu pelaksanaan jika serangan militer terhadap Iran benar-benar dilakukan.

Pernyataan terbaru itu muncul setelah Trump sebelumnya mengatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela yang dijadwalkan pada 3 November mendatang. Dia juga menyebut Washington tengah melakukan "diskusi produktif" dengan Teheran.

"Kami sedang melakukan diskusi produktif dengan Republik Islam Iran," kata Trump dalam pernyataan melalui akun media sosial Truth Social miliknya.

"Saya ingin memperjelas kepada semua pihak bahwa, meskipun kondisi Iran sangat buruk, baik secara ekonomi maupun militer, dan meskipun blokade akan tetap diberlakukan sepenuhnya... kita tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu sela yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat pada 3 November," tegasnya.

AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu pembalasan Teheran melalui serangan rudal dan drone, serta penutupan efektif Selat Hormuz, jalur perairan strategis bagi pasokan minyak dan gas global.

Perang yang telah berlangsung lebih dari tujuh bulan itu turut memicu lonjakan harga bahan bakar. Lalu lintas minyak komersial melalui Selat Hormuz praktis terhenti akibat konflik tersebut.

Washington dan Teheran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan itu bertujuan menghentikan pertempuran sekaligus membuka jalan bagi negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen.

Namun, penerapan MoU tersebut mengalami kebuntuan akibat sejumlah perbedaan pendapat, termasuk terkait masalah keamanan dan kendali atas Selat Hormuz.



Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: AS-Iran Perang Lagi, Piala Dunia Terakhir Ronaldo"

(dpw/dpw)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork