Antrean kendaraan hingga kemacetan parah kerap terjadi pada akses penyeberangan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Kondisi ini dinilai berdampak cukup besar bagi roda perekonomian Jawa dan Bali.
Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, mengungkapkan penanganan kemacetan ini tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak. Menurutnya, pembenahan akses penyeberangan Ketapang-Gilimanuk melibatkan banyak elemen mulai dari regulator, pengelola pelabuhan, operator kapal, kepolisian, pemerintah daerah (pemda), hingga pengguna jasa.
"Secara teknik, jika dilihat ini semua karena masalah optimasi jaringan dan simpul, serta dalam mengatasinya perlu kerja sama semua pihak. Jika hal ini dilakukan, InsyaAllah tertangani macet akan selesai," kata Djoko dalam keterangannya seperti dikutip dari detikFinance, Sabtu (3/10/2026).
Djoko menuturkan pengaturan arus lalu lintas ke arah Pelabuhan Ketapang seharusnya dilakukan sejak dari hulu, bukan menunggu kendaraan menumpuk di depan pintu masuk pelabuhan. Ia mendesak pemerintah dan aparat menyiapkan rekayasa lalu lintas, penyiapan holding area, pengaturan armada logistik, serta sistem antisipasi dini saat volume kendaraan mulai meningkat.
Jalur Ketapang-Gilimanuk, dia berujar, merupakan perlintasan utama bahan pokok dan kebutuhan industri ke Bali dan Nusa Tenggara (Nusra). Dominasi truk-truk berukuran besar membutuhkan waktu bongkar muat lebih lama dan memakan ruang dermaga serta ruang jalan yang signifikan.
Simak Video "Video Arus Balik di Pelabuhan Gilimanuk Landai, Tak Ada Antrean Kendaraan"
(iws/iws)