detikBali

80 Hektare Sawah di Badung Terancam Kekeringan

Terpopuler Koleksi Pilihan

80 Hektare Sawah di Badung Terancam Kekeringan


Agus Eka Purna Negara - detikBali

Tanaman padi tumbuh hijau namun minum air di area Subak Bregiding, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, Badung, Bali, Kamis (1/10/2026).
Foto: Agus Eka
Badung -

Musim kemarau ekstrem memicu ancaman kekeringan pada lahan pertanian aktif di Kabupaten Badung, Bali. Peta dampak kekeringan mencatat setidaknya 80 hektare sawah yang tersebar di wilayah Kecamatan Petang hingga Abiansemal kini berstatus terdampak.

Penurunan debit air sungai memaksa para petani lokal menerapkan sistem penggiliran pasokan air secara ketat untuk menyelamatkan tanaman. Kendala tersebut juga dirasakan langsung oleh para petani di Subak Bregiding, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, yang harus bersiap mengairi lahan pada dini hari.

"Debit air dari hulu sangat kecil, jadi kami antarpetani harus giliran dapat air. Saya dapat jadwal setiap dua hari sekali dan nanti malam mulai jam 2 pagi saluran irigasi digiring ke petakan sawah," kata petani setempat, Wayan Karya (39).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menceritakan kondisi ini terjadi sejak dia bulan lalu. Selain murni karena faktor alam, kerusakan terowongan air berusia tua di wilayah tersebut rusak dan masih proses perbaikan. Kata Wayan, aliran air itu terganggu dan berdampak hingga ke wilayah selatan seperti subak Geriana di Abiansemal.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana membenarkan kondisi itu berdampak ke produktivitas padi di total 80 hektar lahan sawah se Kecamatan Petang dan beberapa titik di Abiansemal.

ADVERTISEMENT

"Yang kira-kira subak kena dampak kekeringan itu sekitar 80 hektar di Petang. Ada juga di Gerana, Kecamatan Abiansemal yang itu akibat kerusakan terowongan yang dampaknya sampai ke Abiansemal ke bawah," kata Ngurah Raka Sukadana, Kamis (1/10/2026).

Pemicu utama kekeringan lahan pertanian ini tidak hanya berasal dari penurunan debit air, tetapi juga dipengaruhi mundurnya musim hujan dan kondisi infrastruktur irigasi yang masih ada yang belum memadai. Selain itu, alokasi pengairan semakin terganggu akibat saluran irigasi tradisional sepanjang tiga kilometer di salah satu kawasan pertanian yang belum dibeton sehingga air lebih banyak terserap ke tanah.

"Debit air memang sangat menurun akibat iklim ekstrem, tetapi kunci utamanya ada di pengaturan air dan perbaikan saluran. Di Subak Buangga misalnya, air banyak terserap tanah karena saluran irigasinya belum dibeton," kata Raka Sukadana.

Sebagai langkah darurat, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung mendorong pengetatan pola tanam gilir dengan beralih ke tanaman palawija. Penyesuaian jadwal tanam dinilai menjadi solusi paling rasional mengingat prediksi cuaca ekstrem yang membuat datangnya musim hujan terus bergeser.

"Petani kita sebenarnya sudah paham cuaca, tapi kemarin banyak yang nekat menanam padi karena mengharapkan hujan. Padahal kalau diatur dengan pola tanam palawija dan irigasi bagus, cuaca ekstrem tidak akan terlalu berdampak," ungkap Raka Sukadana.

Pemerintah Kabupaten Badung telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida untuk memperbaiki kerusakan terowongan di hulu dan saluran air yang tersumbat. Selain itu, perbaikan infrastruktur fisik dan pendataan ulang terhadap profil petani serta irigasi siap direalisasikan pada anggaran perubahan.

"Perbaikan terowongan rusak sedang berjalan secara manual karena medannya terjal dan sulit dimasuki alat berat. Kami juga sudah menganggarkan pendataan irigasi dan kondisi petani di anggaran perubahan agar perbaikan fisik bisa dipercepat," pungkas Raka Sukadana.



(mud/mud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads