Kepergian Guruh Soekarnoputra pada Sabtu (26/9/2026) menyisakan cerita panjang tentang pertemuannya dengan kesenian Bali. Salah satu nama yang berada dalam perjalanan itu adalah I Gusti Kompyang Raka, seniman asal Singapadu, Gianyar.
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada usia 73 tahun di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, sekitar pukul 04.16 WIB. Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati itu dikenal sebagai seniman yang menggabungkan musik, tari dan tradisi Indonesia dalam berbagai karyanya.
Namun, jauh sebelum Guruh Gipsy lahir, Guruh sudah lebih dulu mendalami kesenian Bali. Pada periode 1969-1972, ia belajar tari dan karawitan Bali kepada sejumlah seniman, termasuk I Gusti Kompyang Raka.
Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi kerja sama. Kompyang Raka bahkan terlibat dalam sejumlah proyek kesenian Guruh yang mempertemukan musik modern dengan kesenian Bali.
Kompyang Raka berasal dari Banjar Kutri, Singapadu, Gianyar. Sejak muda, ia telah menguasai tabuh dan tari Bali. Pada 1967, ia pindah ke Jakarta dan mulai semakin banyak terlibat dalam kegiatan kesenian.
Pada 1977, Kompyang Raka bekerja sama dengan Guruh dalam sebuah pertunjukan besar yang menggabungkan musik dengan tari Bali. Kolaborasi tersebut kemudian berlanjut dalam berbagai karya Guruh, termasuk yang berkaitan dengan Guruh Gipsy.
Guruh Gipsy sendiri lahir dari eksperimen Guruh memadukan gamelan Bali dengan musik pop dan rock Barat. Proyek itu melibatkan Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution dan Abadi Soesman. Album tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu tonggak penting dalam perkembangan musik populer Indonesia.
Bagi Kompyang Raka, kedekatan dengan Guruh bukan sekadar pertemuan antara musik tradisional dan musik modern. Pengalaman bersama Guruh juga membawanya pada eksperimen lain dengan musisi rock Indonesia.
Dalam sebuah dokumentasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kompyang Raka menceritakan pengalamannya memasukkan unsur musik Bali dalam proyek Gong 2000.
"Karena sudah pernah bermain bersama Mas Guruh, jadi tidak terlalu sulit. Tapi, saya sempat diprotes oleh seniman-seniman Bali," kata Kompyang Raka.
Pengalaman bersama Guruh menjadi salah satu bekal Kompyang Raka ketika kemudian berkolaborasi dengan musisi lain. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek yang mempertemukan gamelan Bali dengan musik modern.
Hubungan itu tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Pada Synchronize Fest 2025 di Jakarta, nama Kompyang Raka kembali muncul dalam penampilan Guruh Gipsy. Ia tampil bersama Gamelan Saraswati dalam pertunjukan yang kembali menghadirkan lagu-lagu seperti "Smaradhana", "Janger 1897 Saka", "Barong Gundah" dan "Indonesia Maharddhika".
Hampir lima dekade setelah eksperimen awal Guruh Gipsy, pertemuan musik rock dengan gamelan Bali itu masih dipentaskan.
Kini Guruh telah pergi. Tetapi hubungan yang pernah dibangunnya dengan seniman Bali, termasuk Kompyang Raka, meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri dari panggung-panggung pertunjukan hingga rekaman musik.
Di dalam sejarah Guruh Gipsy, Kompyang Raka menjadi salah satu nama dari Bali yang ikut berada di persimpangan tersebut: ketika gamelan tidak hanya dimainkan dalam ruang tradisi, tetapi dibawa bertemu dengan suara gitar, drum, keyboard dan musik rock.
Simak Video "Video Megawati di Pameran Foto Guntur Soekarnoputra: Foto Saya yang Cantik Loh Ya!"
(nor/nor)