detikBali

Kisah Nama Serangga Pemakan Tumbuhan yang Terinspirasi dari Taylor Swift

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kisah Nama Serangga Pemakan Tumbuhan yang Terinspirasi dari Taylor Swift


Nograhany Widhi Koesumawardani - detikBali

Foto Taylor Swift buat era album The Life of a Showgirl.
Taylor Swift. (Foto: Dok. Instagram @taylorswift)
Denpasar -

Sarah Schroeder, seorang mahasiswa doktoral bidang entomologi di University of California (UC) Riverside bersama rekannya Christiane Weirauch menemukan 12 spesies serangga baru di Australia. Salah satu genus serangga pemakan tumbuhan diberi nama Swiftiephylus.

Dilansir dari detikEdu, nama genus tersebut ternyata terinspirasi dari penyanyi Taylor Swift. Bukan tanpa alasan, ilmuwan penemu serangga itu ternyata seorang Swifties alias penggemar Taylor Swift.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua belas serangga itu mereka golongkan ke dalam lima genus. Adapun, genus Swiftiephylus berisi empat spesies yang namanya terinspirasi Taylor Swift serta beberapa albumnya, yakni Swiftiephylus taylorae, Swiftiephylus amator, Swiftiephylus intrepidus, dan Swiftiephylus poetorum.

Nama-nama tersebut merupakan versi Latin dari Taylor yang berarti kekasih, pemberani, dan penyair. Sementara nama genusnya menggabungkan 'Swiftie', istilah untuk penggemar Swift; dengan Phylus, nama yang umum digunakan untuk kelompok serangga ini.

ADVERTISEMENT

"Sebagai penggemar Taylor Swift seumur hidup, rasanya sangat tulus untuk menghormati Taylor dengan cara ini, sekaligus menarik perhatian pada keanekaragaman serangga yang belum ditemukan," kata Schroeder dilansir dari laman UC Riverside, Rabu (9/9/2026).

Taylor Swift dan serangga pemakan tumbuhan yang dinamai dirinyaTaylor Swift dan serangga pemakan tumbuhan yang dinamai dirinya. Foto: Wikipedia, Sarah Schroeder & Christiane Weirauch (combine by Chat GPT)

Schroeder percaya bahwa warna serangga ini membantu mereka berkamuflase di antara bunga she-oak yang memiliki struktur ramping berwarna merah hingga oranye. Schroeder menuliskan pewarnaan krem dan merah yang serupa telah diamati pada serangga yang berkerabat jauh yang hidup di tanaman yang sama. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa kamuflase mungkin telah berevolusi secara independen beberapa kali.

"Penampilan ikonik Taylor Swift adalah rambut pirang dan bibir merahnya. Serangga ini berwarna kuning pucat dengan aksen merah di seluruh tubuhnya. Dalam makalah ini saya menyebutnya sebagai pirang," imbuh Schroeder.

Diketahui, Schroeder dan Weirauch memeriksa 593 spesimen yang dipinjam dari Museum Sejarah Alam Amerika dan Museum Australia, yang dikumpulkan antara tahun 1995 dan 2004. Serangga-serangga tersebut terbagi ke dalam kelompok evolusi yang berbeda meskipun memiliki tanaman inang yang sama dan warna yang serupa.

Di sisi lain, meskipun telah dilakukan selama berabad-abad, terdapat beberapa perdebatan di kalangan ahli entomologi mengenai penamaan bagian-bagian dunia alami berdasarkan nama manusia. Namun, Schroeder sangat yakin bahwa praktik tersebut dapat digunakan secara positif.

Bagi Schroeder, memberi nama serangga-serangga itu dengan nama seorang seniman yang musiknya telah menemaninya sejak kecil hingga masa studi pascasarjana adalah sebuah upaya menghormati ilmu konservasi. Dengan begitu, dia berujar, ilmu konservasi semakin menarik perhatian.

"Taksonomi adalah landasan konservasi. Jika kita tidak mendeskripsikan spesies, kita tidak tahu keberadaannya dan tidak dapat melestarikannya. Menghormati Taylor dengan menamai spesies-spesies ini dengan namanya adalah cara untuk menghormati ilmu konservasi dan menarik perhatian pada semua keanekaragaman yang belum diketahui," tandas Schroeder.

Diketahui, hasil riset Schroeder dan Weirauch telah diterbitkan dalam jurnal Brill pada 9 September 2026 dengan judul "New genera and species of Australian sheoak-associated plant bugs (Hemiptera: Miridae: Phylinae: Pilophorini and Semiini)".

Artikel ini telah tayang di detikEdu. Baca selengkapnya di sini!



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads