Kemenag Sebut Indonesia Lebih Damai Dibanding Banyak Negara di Dunia

Fabiola Dianira - detikBali
Minggu, 06 Sep 2026 09:23 WIB
Foto: Sekretaris Dirjen Pendidikan Islam Kemenag M Arskal Salim, di acara Bali Harmony Encounter Week di Sira Village, KEK Kura Kura Bali, Denpasar, Sabtu (5/9/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Denpasar -

Indeks Perdamaian Global (GPI) 2026 mencatat tingkat perdamaian dunia berada pada titik terendah sejak 2008. Namun, di tengah kondisi tersebut, Indonesia justru mencatat indeks kerukunan umat beragama.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), M Arskal Salim, mengatakan sebanyak 119 dari 163 negara atau sekitar 73 persen negara di dunia tercatat kurang damai dibandingkan hampir dua dekade lalu.

"Menandai penurunan selama 12 tahun berturut-turut. Sebanyak 119 dari 163 negara, atau sekitar 73% dari dunia, kini tercatat kurang damai dibandingkan hampir dua dekade lalu," ujarnya dalam sambutan di acara Bali Harmony Encounter Week di Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Sabtu (5/9/2026).

Arskal mengatakan kondisi tersebut antara lain terlihat dari jumlah kematian akibat konflik pada 2025 yang mencapai lebih dari 181 ribu jiwa. Angka tersebut meningkat 64 persen dibandingkan 2018.

"Perubahan iklim, kerusakan ekologis, polarisasi sosial, dan disrupsi teknologi kini saling berkaitan, mengikis rasa percaya antarmasyarakat dan antarbangsa," lanjutnya.

Menurutnya, Indonesia juga mengalami penurunan perdamaian global tersebut. Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 163 negara dalam GPI 2026, dengan skor yang menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Kita berada di peringkat 69 dari 163 negara, dengan skor yang menurun dari tahun-tahun sebelumnya," katanya.

Namun, berdasarkan Global Flourishing Study menempatkan Indonesia di peringkat pertama dunia dalam hal human flourishing atau kesejahteraan dan kemajuan manusia.

"Menurut Studi Kesejahteraan Global (Global Flourishing Study), Indonesia saat ini menempati peringkat nomor satu di dunia dalam hal human flourishing (kesejahteraan dan kemajuan manusia)," imbuhnya.

Indikator tersebut mencakup sejumlah aspek kesejahteraan manusia, seperti kebahagiaan, kesehatan mental dan fisik, makna hidup, karakter, iman, hubungan sosial, hingga stabilitas finansial.

Selain itu, Arskal menyoroti Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang diukur Kementerian Agama setiap tahun. Pada 2025, indeks tersebut mencapai 77,89 atau menjadi skor tertinggi sejak pertama kali dibentuk pada 2015.

"Indeks Kerukunan Umat Beragama, yang diukur setiap tahun oleh Kementerian kami, mencapai angka 77,89 pada tahun 2025. Ini adalah skor tertinggi sejak indeks ini pertama kali dibentuk pada tahun 2015," tandasnya.

Menurut Arskal, kondisi kerukunan di Bali menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda dapat hidup berdampingan.

"Di Bali luar biasa ya. Kita menyaksikan betul bagaimana masyarakat Bali begitu toleran ya, menghormati perbedaan. Agama-agama lain juga bisa hidup tenteram di sini. Begitu pun juga tradisi Bali tetap dipertahankan dan agama-agama yang lain yang hadir di Bali juga ikut merayakan, menghormati tradisi-tradisi setempat di sini," ujarnya.

Meski demikian, Arskal mengatakan adanya satu atau dua persoalan yang berkaitan dengan perbedaan kelompok, kepentingan, agama, maupun suku tidak serta-merta menggambarkan kondisi keseluruhan masyarakat.

"Itu hal yang terjadi di mana semua tradisi ya, apakah itu tradisi agama, kelompok, kepentingan, suku, bahwa tapi itu sangat minor sekali ya. Tidak bisa digunakan sebagai petunjuk bahwa itu mewakili semuanya, tidak," imbuhnya.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut justru harus menjadi pengingat agar masyarakat tidak terlena dan terus menjaga kerukunan.



Simak Video "Video: Indonesia Punya Kita: Menjaga Energi, Membangun Negeri"

(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork