Kementerian Agama (Kemenag) tengah mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta. Kurikulum tersebut dinilai memiliki nilai yang sejalan dengan kearifan lokal Bali, Tri Hita Karana.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, M Arskal Salim, mengatakan Kurikulum Berbasis Cinta dibangun di atas tiga pilar utama. Kurikulum ini akan diterapkan di seluruh sekolah Islam, madrasah, pondok pesantren, sekolah keagamaan, hingga perguruan tinggi keagamaan di Indonesia.
"Kurikulum ini berdiri di atas tiga pilar cinta, yang saya yakin akan dengan cepat Anda kenali sebagai cerminan dari Tri Hita Karana," ujarnya dalam sambutan di acara Bali Harmony Encounter Week di Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Sabtu (5/9/2026) malam.
Arskal menjelaskan lebih lanjut mengenai tiga pilar tersebut. Pilar pertama adalah cinta kepada Sang Pencipta yang diharapkan menumbuhkan pengabdian yang lembut, tidak keras, dan tidak menghakimi.
Pilar kedua, cinta kepada sesama manusia, untuk menumbuhkan toleransi, rasa hormat terhadap perbedaan, serta penolakan terhadap segala bentuk kekerasan dan perundungan.
Sementara pilar ketiga adalah cinta kepada alam semesta dan seluruh makhluk hidup. Pilar ini diharapkan menumbuhkan tanggung jawab ekologis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan.
Arskal kemudian mengaitkan ketiga pilar tersebut dengan konsep Tri Hita Karana yang menjadi salah satu landasan kearifan lokal Bali.
"Parahyangan dan cinta kepada Tuhan, Pawongan dan cinta kepada kemanusiaan, Palemahan dan cinta kepada alam," lanjutnya.
Menurutnya, kesamaan nilai tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama pada dasarnya dapat menjadi sarana untuk membangun kehidupan yang harmonis dan saling menghormati.
Arskal menambahkan perdamaian tidak cukup dibangun melalui negosiasi tingkat tinggi. Menurutnya, nilai-nilai perdamaian perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan.
"Kedamaian itu akan lahir, dan akan bertahan, jika ditanamkan sejak dini di ruang-ruang kelas, di pesantren, di madrasah, di perguruan tinggi keagamaan, dan dari mimbar-mimbar rumah ibadah, melalui pendidikan yang berakar pada cinta," imbuhnya.
Dia menegaskan Kurikulum Berbasis Cinta menjadi salah satu upaya Kemenag untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kematangan spiritual dan sosial.
"Kurikulum Berbasis Cinta adalah upaya kami untuk menanamkan benih-benih ini agar generasi mendatang tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial, siap menjadi pembawa kedamaian di zamannya masing-masing," ucapnya.
Simak Video "Video Hasil Sidang Isbat Penetapan Idul Adha 2026"
(hsa/hsa)