Legenda tinju nasional, Pino Bahari, mengalami kecelakaan di Jalan Bypass Ngurah Rai, Denpasar, Senin (13/4). Akibat insiden itu, ia harus menjalani operasi pada tulang rusuk dan pergelangan kaki kiri.
Kini, peraih medali emas Asian Games Beijing 1990 tersebut sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Namun, hingga saat ini belum ada pihak pemerintah, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), yang menanyakan kondisinya.
"Secara institusi sementara saya masih menunggu untuk dihubungi oleh pihak Kemenpora terkait bantuan sosialnya. Semoga akan ada hasil dari komunikasi yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya di Jakarta," kata Pino saat dihubungi detikBali, Senin (27/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pino mengaku selama ini tidak ada dana pensiun atau bantuan serupa yang diberikan pemerintah. Padahal, kariernya di dunia tinju terbilang gemilang pada era 1990-an, termasuk lolos ke Olimpiade Barcelona 1992 dan Athena 1996.
Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kondisi ekonomi para atlet yang sudah pensiun. Saat ini, Pino beraktivitas sebagai pelatih tinju di Bali. Selain itu, ia juga bekerja sebagai sopir taksi online untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Mohon pemerintah bisa memberikan undang-undang lah bagi para atlet yang sudah pensiun dijamin masa depannya berupa dana pensiun," harapnya.
Pino mengusulkan agar skema dana pensiun dibagi berdasarkan kategori pencapaian prestasi atlet, mulai dari Olimpiade, Asian Games hingga SEA Games, serta disesuaikan dengan medali yang diraih.
Menurutnya, dana pensiun tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga penting untuk mendukung regenerasi atlet nasional.
"Jadi pembinaan olahraga bisa diterima masyarakat agar antusias anak-anak mereka akan dijamin masa depannya oleh pemerintah," tuturnya.
Adik Pino, Daudi Bahari, menambahkan kondisi ekonomi atlet lain yang seangkatan dengan kakaknya saat ini cukup memprihatinkan.
"Apa yang beliau korbankan untuk prestasi tinju tanah air tidak sepadan dengan apa yang didapat, mengorbankan masa muda dan kesehatan," ujarnya.
Ia menilai olahraga tinju memiliki risiko tinggi, sehingga perhatian pemerintah terhadap atlet dan mantan atlet sangat dibutuhkan.
"Saya sendiri sebagai mantan petinju juga berharap pemerintah bisa lebih menghargai dan mensejahterakan para atlet dan mantan atlet berprestasi," tandasnya.