Dua dari tiga tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di wilayah Denpasar diketahui masih belum beroperasi optimal. Saat ini, TPST yang berfungsi maksimal baru TPST Padang Sambian. Sementara itu, TPST Kesiman Kertalangu serta TPST Tahura Ngurah Rai 1 dan 2 masih dalam tahap pembenahan.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, I Wayan Tagel Sidarta, menjelaskan pembenahan TPST Kesiman Kertalangu dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Hal tersebut berkaitan dengan sejumlah kendala yang dihadapi sebelumnya.
"Di Kesiman Kertalangu kita memang harus hati-hati di situ. Satu, karena penolakan dari warga terkait bau sampai radius tertentu. Kedua, faktor teknis dari vendor yang tidak mampu menjalankan sesuai kontrak, sudah beberapa kali kita berikan perpanjangan, akhirnya putus kontrak sejak tahun lalu," jelas Sidarta saat ditemui tim detikBali di Kantor DLHK Kota Denpasar, Rabu (28/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sidarta menambahkan, pengoperasian TPST Tahura Ngurah Rai 1 dan 2 masih menunggu optimalisasi TPST Kesiman Kertalangu. Upaya pembenahan tetap dilakukan agar fasilitas tersebut tidak terkesan terbengkalai.
"Di tahun 2026 ini kita coba pengelolaan lagi. Biar tidak keliatan mangkrak. Cuma kehati-hatiannya di situ, meminimalkan bau dulu. Para warga tidak menolak, tapi bau nya itu," ujar Sidarta.
Ia juga menyampaikan saat ini DLHK Kota Denpasar sedang dalam tahap proses instalasi mesin berkapasitas besar sekaligus uji coba operasional.
"Kalau perlu coba main sekali, tinggal izin aja," tutur Sidarta.
Bangun TPS3R di Sesetan dan Padangsambian
Di sisi lain, Pemerintah Kota Denpasar juga membangun tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) baru di wilayah Sesetan dan Padang Sambian. Pembangunan TPS3R tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Denpasar. Sementara itu, penyediaan peralatan teknis menjadi tanggung jawab DLHK Kota Denpasar.
"Awal bulan ini kita sedang proses penginstalan alat. Operasionalnya mungkin diserahkan masing-masing ke desa, tapi kita ada pendampingan di situ, gimana caranya memproses sampah dari awal sampai akhir," kata Sidarta.
Selain pembangunan infrastruktur, DLHK Kota Denpasar juga memfokuskan perhatian pada edukasi pemilahan sampah dari sumber. Edukasi ini menyasar berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga pelaku usaha.
DLHK melibatkan pegiat lingkungan dan didukung swakelola sampah oleh desa dan kelurahan. Sejumlah solusi yang diterapkan antara lain pembuatan teba modern, sumur komposter, serta penggunaan composter bag.
Adapun titik-titik rawan penyumbang sampah terbesar di Kota Denpasar didominasi wilayah Denpasar Barat dan Denpasar Selatan.
"Posisi sampah sebenarnya hampir merata, tapi yang kepadatan penduduk dan banyaknya pelaku usaha, di Selatan dan Barat," ujar Sidarta.
Untuk mendukung pengelolaan sampah secara menyeluruh, DLHK Kota Denpasar menyiapkan anggaran sebesar Rp 105 miliar yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya operasional, belanja modal, hingga pembiayaan pegawai.
(dpw/dpw)










































