Sejumlah pengusaha rental motor di Bali, khususnya di Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung, menjerit. Mereka bisa kehilangan 100 persen pendapatan jika larangan mengendarai sepeda motor bagi turis benar diterapkan.
Hal ini terjadi karena sebagian besar yang menyewa adalah turis asing, khususnya bule. Seperti yang terjadi pada salah satu rental motor di Desa Canggu milik Ketut Suparwana (49).
Ia mengaku berat dengan wacana larangan menyewa motor terhadap turis asing di Bali. Menurutnya pemerintah agar fokus pada penertiban turis yang melanggar lalin dan mempertimbangkan kembali aturan baru yang berpotensi menghancurkan usaha warga lokal (warlok).
"Kami serasa berat sih ya dengan wacana itu dan rental ini sudah ada sejak lama. Mungkin pemerintah caranya (menerapkan) dengan aturan lain misalnya menertibkan turis yang sewa motor agar tertib berlalulintas," ungkap Suparwana, Senin (13/3/2023).
Aturan tersebut, lanjutnya, akan sangat merugikan warga lokal yang berbisnis di penyewaan kendaraan. Apalagi ia mengaku rental miliknya saat ini sepi dan pendapatannya hanya berkisar Rp 5 juta per bulan sudah dipotong biaya perawatan dan operasional showroom.
"Karena yang sewa lebih banyak bule. Bisa dilihat motor banyak di rumah karena sepi. Soal aturan sudah kami ketat ke penyewa. Kami menerapkan security deposit agar ada jaminan karena kami tidak punya kewenangan menahan paspor untuk jaminan," beber pria asal Singaraja, Buleleng ini.
Hal serupa disampaikan pemilik rental motor lainnya Kadek Doni Permana Putra di Desa Tibubeneng. Ia mengaku heran dengan wacana yang dilempar Gubernur Bali tersebut. Sebab menurutnya turis yang melanggar tetapi malah rental yang dikorbankan.
"Alasannya ini kan usaha pribadi, kok bisa rental yang ditutup gara-gara ada bule yang ganti DK dan langgar aturan lalu lintas. Kenapa tidak tukang DK yang disosialisasikan agar tidak menerima buat DK palsu atau sosialisasi agar turis bisa taat berkendara," keluh Doni. Jika larangan tersbeut diterapkan, ia berpotensi kehilangan pendapatan 70 juta. "Karena pendapatan kami bisa Rp 70 juta per bulan dan sekarang musim sepi saja sudah Rp 50 juta per bulan dan ada motor lain yang tidak keluar (tidak disewa)," ujar Doni.
Selengkapnya baca halaman selanjutnya
(efr/gsp)