Ketua MPR Dukung Penggunaan Kendaraan Listrik di G20 Bali

Ketua MPR Dukung Penggunaan Kendaraan Listrik di G20 Bali

tim detikNews - detikBali
Jumat, 30 Sep 2022 09:08 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet). Foto: Dok. MPR RI
Bali -

Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendukung penggunaan kendaraan listrik saat penyelenggaraan KTT G20 Bali. Hal ini sesuai usulan Gubernur Bali I Wayan Koster.

Ia juga berharap penggunaan kendaraan listrik di G20, bisa mempercepat migrasi kendaraan konvensional bahan bakar minyak ke kendaraan listrik. Selain itu, bisa juga menarik lebih banyak komunitas otomotif berbasis kendaraan listrik.

Dilansir dari detikNews, data the Millennium Alliance for Humanity and the Biosphere Stanford University, secara global diperkirakan minyak bumi akan habis tahun 2052, dan gas bumi akan habis tahun 2060.


Dari dalam negeri, Dewan Energi Nasional memperkirakan cadangan minyak bumi nasional sebesar 4,2 miliar barel, akan habis dalam kurun waktu sekitar sembilan tahun. Karena itu, kendaraan listrik perlu segera dimasifkan.

"Cadangan gas bumi sebesar 62,4 triliun kaki kubik, juga akan habis dalam kurun waktu kurang lebih 18 tahun. Perhitungan tersebut dengan asumsi tidak ditemukan sumber daya baru. Karena itu, kehadiran kendaraan listrik bukan hanya sebuah keniscayaan, melainkan menjadi kebutuhan yang harus segera dimasifkan," ujar Bamsoet, Jumat (30/9/2022).

Menurutnya, Indonesia harus bersyukur karena Pertamina menemukan tujuh sumur cadangan minyak dan gas baru. Pertamina juga menargetkan eksplorasi sebanyak 29 sumur hingga akhir periode 2022, atau meningkat 242% dibandingkan tahun 2021. Meski demikian, penting disadari minyak dan gas bumi adalah sumber daya yang tidak dapat diperbarui dan akan habis.

"Dari perspektif dunia otomotif, gambaran kondisi di atas mengantarkan kita pada satu kesimpulan, di satu sisi harus lebih efisien dalam menggunakan ketersediaan energi yang ada. Di sisi lain harus berupaya mencari sumber daya alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan dan populasi yang terus bertambah menurut deret ukur," jelasnya.

Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan mendorong percepatan migrasi dari kendaraan konvensional BBM ke kendaraan listrik. Migrasi kendaraan ini, menurutnya, memiliki nilai urgensi tinggi, setidaknya untuk tiga alasan.

  • Pertama, mengurangi polusi atau pencemaran udara. Sebagian besar, sekitar 60%, kontributor pencemaran atau polusi udara di Indonesia disebabkan kendaraan bermotor. Asap kendaraan bermotor mengandung gas beracun yang disebut karbon monoksida dan zat-zat berbahaya lainnya, seperti timbal, nitrogen dioksida, dan karbon dioksida.
  • Kedua, dapat mengurangi beban subsidi BBM oleh negara. Sebab, berdasarkan data Korlantas Polri, per awal Agustus 2022, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai lebih dari 149,7 juta unit. Konsekuensi dari meningkatnya kendaraan bermotor adalah tingginya serapan subsidi BBM. Sebagai gambaran, tahun anggaran 2022, besarnya subsidi BBM dan kompensasi akan mencapai Rp 689 triliun atau lebih besar Rp 195,6 triliun dari yang dianggarkan pemerintah dalam APBN 2022 senilai Rp 502,4 triliun.
  • Ketiga, meningkatkan ketahanan energi nasional. Penggunaan energi listrik sebagai pengganti BBM akan mengurangi konsumsi BBM dan beban subsidi yang harus ditanggung negara, sehingga meningkatkan ketahanan energi nasional. Penggunaan kendaraan listrik juga menjadi alternatif solusi untuk menekan ketergantungan impor migas dan merealisasikan komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca atau karbon dioksida sebesar 29% pada tahun 2030


Simak Video "Bagaimana Nasib Ratusan Mobil Listrik Bekas KTT G20?"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)