Penyebab Penyakit Saraf Kejepit, Gejala Hingga Cara Mengobati

Tim detikJabar - detikBali
Kamis, 21 Jul 2022 18:11 WIB
Herniated Nucleus Pulposus
Foto: ilustrasi saraf kejepit (thinkstock)
Bali -

Saraf merupakan salah satu organ penting pada tubuh manusia. Dengan saraf, memungkinkan otak memberikan 'perintah' kepada organ di seluruh tubuh. Namun, ada sejumlah hal yang bisa mengganggu kinerja saraf ini, salah satunya saraf kejepit.

Pernahkah kamu merasa tiba-tiba nyeri di salah satu bagian tubuh dan akhirnya sakit ketika digerakkan? Bisa jadi itu merupakan tanda dari saraf kejepit. Apa sebenarnya saraf kejepit itu dan apa saja gejalanya? Yang lebih penting, bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasannya selengkapnya.

Apakah Saraf Kejepit itu?


Saraf kejepit adalah masalah yang terjadi pada saraf di salah satu atau lebih bantalan 'karet' (disk) pada bagian tulang belakang.

Dilansir Mayo Clinic, bantalan karet ini memiliki tekstur yang lembut pada bagian dalamnya seperti agar-agar. Bagian ini disebut nukleus. Nukleus dibungkus oleh bagian luar yang lebih keras namun tetap kenyal bernama annulus. Nah, saraf kejepit terjadi ketika nukleus terdesak atau terdorong ke luar annulus.

Bantalan karet (disk) itu sendiri terdapat pada sekujur tulang belakang. Namun, umumnya saraf kejepit terjadi pada bantalan yang berada di bawah. Itulah kenapa orang yang mengalami saraf kejepit biasanya merasakan sakit atau nyeri pada bagian punggung bawah.

Lebih lanjut, MSD Manual menerangkan bahwa desakan atau dorongan nukleus ke luar annulus ini dapat menyebabkan robek pada annulus. Robekan ini dapat menimbulkan rasa sakit akibat iritasi saraf sensorik. Iritasi ini dikenal juga dengan istilah radikulopati.

Rasa sakit yang timbul dari saraf kejepit ini memang bisa berakibat fatal. Namun, MSD Manual menyebutkan bahwa saraf kejepit memang sering terjadi dan merupakan hal biasa. Tidak harus melalui operasi juga untuk mengatasi saraf kejepit.

Meski demikian, detikers harus tetap mengantisipasi agar saraf kejepit tidak terjadi, karena bakal mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Kira-kira apa saja yang mungkin menyebabkan saraf kejepit?

Penyebab Saraf Kejepit

Mengutip Mayo Clinic, saraf kejepit paling sering terjadi karena keausan bertahap yang dialami bagian tulang belakang akibat usia. Hal ini dikenal juga sebagai degenerasi. Bantalan karet pada tulang belakang memang bakal berkurang fleksibilitasnya seiring bertambahnya usia, sehingga rawan robek dan pecah hanya dengan sedikit gerakan.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan saraf kejepit lebih mudah muncul atau efeknya terasa lebih sakit, di antaranya:

-Beban berat. Badan mengangkat beban berat yang berlebihan sehingga bantalan karet di tulang belakang tertekan.
-Aktivitas fisik. Aktivitas yang berat seperti mengangkat, menarik, atau mendorong sesuatu hingga tubuh memuntir (twisting) juga meningkatkan risiko saraf kejepit.
-Genetik. Sebagian orang kerap mengalami saraf kejepit karena memang mewarisi penyakit itu dari orangtua atau keluarga yang lebih tua.
-Merokok. Rupanya, merokok punya andil menambah risiko saraf kejepit karena mengurangi asupan oksigen ke dalam tubuh, termasuk ke dalam bantalan karet di tulang belakang.
-Duduk terlalu lama di kendaraan. Kombinasi antara duduk terlalu lama dan berada dalam kendaraan yang bergetar juga bisa memberikan tekanan lebih pada tulang belakang.
-Kurang gerak. Hal ini dapat menyebabkan disk tulang belakang cepat aus, karena itu penting untuk sering bergerak secukupnya dengan berolahraga.

Apa Saja Gejala Saraf Kejepit?

Seperti dijelaskan sebelumnya, saraf kejepit lebih banyak terjadi pada bagian bawah punggung. Namun, beberapa orang juga sering mengalaminya pada bantalan karet tulang belakang bagian atas hingga ke leher. Karena itu, gejala yang dirasakan orang-orang bisa beragam.

Berikut 7 gejala saraf kejepit yang kerap dirasakan menurut Mayo Clinic dan MSD Manual.

-Rasa sakit pada tangan, jika saraf yang kejepit berada pada bantalan karet bagian atas tulang belakang
-Rasa sakit pada kaki, jika saraf yang bermasalah ada di bagian bawah tulang belakang.
-Mati rasa
-Kesemutan
-Lemas
-Kesulitan menggerakkan anggota tubuh
-Retensi urin atau inkontinensia (ketidakmampuan tubuh mengosongkan kandung kemih)

Meski demikian, ada juga orang yang mengalami saraf kejepit tanpa merasakan gejala-gejala di atas. Hal ini bisa diketahui dengan melakukan pemeriksaan medis.

Bagaimana Cara Mengatasi Saraf Kejepit?

Walaupun terkadang terkesan berbahaya dan mengganggu aktivitas, saraf kejepit tidak berbahaya selama ditangani dengan benar. Bahkan, menurut MSD Manual, saraf kejepit yang tidak terlalu serius cukup ditangani secara konservatif atau dengan langkah-langkah sederhana. Secara umum, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi saraf kejepit, yakni cara sederhana dan cara invasif.

Cara sederhana yang dimaksud antara lain dengan:

-Membatasi aktivitas fisik yang berat, misalnya mengangkat benda tidak lebih dari 5 kilogram.
-Tidak terlalu lama berbaring di tempat tidur.
-Mengkonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) atau analgesik untuk menghilangkan rasa sakit.
-Melakukan terapi atau latihan fisik ringan untuk menjaga/memperbaiki postur tubuh, terutama memperkuat otot punggung.

Apabila saraf kejepit terasa semakin parah, maka disarankan menggunakan cara-cara invasif ini, antara lain dengan:

-Memeriksakan diri secara medis untuk menemukan kelainan pada bantalan karet tulang belakang.
-Melakukan tindakan bedah apabila ditemukan kompresi sumsum tulang belakang yang berkorelasi dengan kelainan di atas.

Nah, sekarang detikers sudah memahami tentang apa itu saraf kejepit, penyebab, gejala, hingga cara mengatasinya apabila terjadi pada tubuh Anda. Semoga bermanfaat.



Simak Video "Ari Lasso Dirawat di Rumah Sakit"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)