Bule Nekat Menari Telanjang di Puncak Batur, BKSDA: Sulit Dipantau

Tim detikBali - detikBali
Selasa, 26 Apr 2022 11:30 WIB
Salah satu jalur pendakian Bukit Payang menuju puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli yang masih ditutup sejak 2020.
Salah satu jalur pendakian Bukit Payang menuju puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. (Foto: Agus Eka/detikBali)
Bangli -

Mencuatnya kasus Warga Negara (WN) asal Kanada yang menari dalam keadaan tak berbusana di Gunung Batur, mendapat respons dari pihak pengelola.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Bali selaku pengelola taman wisata alam Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli, menyatakan sejatinya sejak 2020 lalu telah menutup jalur pendakian tersebut.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan akan ada pendaki yang nekat menerobos jalur pendakian Batur secara ilegal.


Hal itu dinilai bisa terjadi lantaran akses menuju puncak Gunung Batur sangat banyak. Selain itu area taman wisata yang luas juga mengakibatkan jangkauan petugas di lapangan terbatas. Petugas pun diminta mengintensifkan pengawasan di lapangan.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Bali, Sulistyo melanjutkan Praktis pihaknya melarang aktivitas pendakian untuk sementara waktu sampai ada keputusan untuk dibuka lagi.

Terkait ada oknum turis menari telanjang di kawasan itu, Sulistyo menilai pendaki tersebut sudah menerobos kawasan secara ilegal. Di sisi lain, pihaknya mengakui puncak Gunung Batur bisa diakses dari segala arah.

"Petugas memang ada enam orang yang siaga. Tapi penjagaan ada jam-jamnya. Kita tahu Batur itu open access, sehingga orang masuk puncak Batur ya bisa dari mana saja. Ini yang menyulitkan pantauan petugas," kata Sulistyo, Senin (25/4/2022) malam.

Dia mengakui kesadaran untuk taat aturan masih sangat rendah. "Ya namanya ilegal, masuk dari jalur lain atau pas saat tidak ada yang berjaga. Apalagi kawasan sangat luas, kan," katanya.

Ia menyebut, sosialisasi terkait penutupan jalur pendakian Batur sementara waktu sudah dilakukan melalui media sosial dan lisan langsung di kawasan. Bahkan spanduk imbauan sudah dipasang di beberapa jalur pendaki.

Pihaknya meminta pada masyarakat menunda pendakian sampai situasi kembali kondusif. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal buruk. "Yang utama kan keselamatan jiwa. Jangan sampai diam-diam masuk kawasan lalu tidak ada yang tahu, akan sangat berbahaya," tegasnya.

Terkait sistem pengawasan, Sulistyo mengakui, BKSDA Bali sempat merencanakan pemasangan kamera pemantau di beberapa jalur pendakian Gunung Batur. Akan tetapi ada pertimbangan kondisi di lapangan, serta kesiapan pengelolaan, akibatkan rencana itu belum terlaksana.

"Kami konsen pengelolaan mulai 2014 lalu. Jadi saat ini masih tahap menata sistem pengelolaan pendakian agar lebih baik. Kami akui masih perlu belajar dari tempat lain yang sudah profesional. Kami contohkan seperti Rinjani di Lombok, itu sudah lama menerapkan. Jadi ada rencana ke arah sana," tandasnya.



Simak Video "Bule Telanjang di Gunung Batur Diperiksa Imigrasi, Segera Dideportasi"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)