detikBali
detikBali-Nusra Award 2026

Berawal dari Tugas Akhir, Gamelan Pesel Jadi Identitas Baru Karawitan Bali

Terpopuler Koleksi Pilihan
detikBali-Nusra Award 2026

Berawal dari Tugas Akhir, Gamelan Pesel Jadi Identitas Baru Karawitan Bali


Wibhi Leksono - detikBali

I Wayan Arik Wirawan sosok pencipta gamelan Pasel. Dokumentasi I Wayan Arik Wirawan
I Wayan Arik Wirawan sosok pencipta Gamelan Pasel. (Foto: Dok. I Wayan Arik Wirawan)
Denpasar -

Tidak banyak karya tugas akhir yang mampu bertahan lebih dari satu dekade. Sebagian hanya menjadi dokumen akademik yang tersimpan di perpustakaan kampus. Namun berbeda dengan Gamelan Pesel. Berawal dari proyek tugas akhir di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, ansambel musik ciptaan I Wayan Arik Wirawan itu terus berkembang dan kini menjadi salah satu inovasi karawitan Bali yang dikenal luas.

Perjalanan Gamelan Pesel dimulai sekitar 2010-2011 ketika Arik mulai merancang sebuah gamelan baru untuk tugas akhirnya di ISI Denpasar. Saat itu ia membuat prototipe sederhana dengan pelawah yang masih jauh dari bentuknya sekarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya merencanakan suatu jenis gamelan baru yang akan saya pakai untuk tugas akhir di ISI Denpasar tahun 2013. Saya membuat prototipe dengan pelawah yang masih sederhana," ujar Arik saat diwawancarai, Jumat (26/5/2026).

Sebelum digunakan dalam ujian akademik, prototipe tersebut mendapat kesempatan tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) mewakili Kota Denpasar dalam kategori musik pengembangan. Dalam penampilan itu, instrumen ciptaannya dikolaborasikan dengan gamelan geguntangan.

ADVERTISEMENT
Seperangkat Gamelan Pesel milik I Wayan Arik Wirawan. (Foto: Dok. Istimewa)Seperangkat Gamelan Pesel milik I Wayan Arik Wirawan. (Foto: Dok. Istimewa)

Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuat Arik semakin yakin mengembangkan gagasannya. Ia kemudian menyempurnakan desain instrumen menggunakan material yang lebih baik dan menghadirkan bentuk ukiran yang menjadi identitas visual Gamelan Pesel.

Pada 2012 lahirlah perangkat awal yang menjadi fondasi ensambel tersebut, yakni dua gangsa atau pemade dan dua jublag. Setahun kemudian, instrumen itu menjadi media utama dalam penyelesaian tugas akhirnya di ISI Denpasar.

Berbeda dengan penciptaan gamelan yang didorong kebutuhan tertentu, Arik mengaku Gamelan Pesel lahir dari keinginan menerjemahkan gagasan musikal yang selama ini ada dalam pikirannya.

"Saya sangat kagum dan bangga dengan banyaknya jenis gamelan Bali. Tapi saya ingin menerjemahkan apa yang ada di pikiran saya waktu itu. Saya ingin bentuk gamelan baru yang memang mencirikan saya atau gending yang saya buat," katanya.

Inspirasi utama Gamelan Pesel berasal dari dua jenis gamelan yang sangat disukai Arik, yakni Selonding dan Semar Pegulingan. Dari kedua sumber tersebut lahir sebuah ansambel baru yang menggabungkan unsur tradisi sekaligus pembaruan.

"Di dalamnya ada bentuk tradisi juga inovasi budaya. Saya menghubungkan konsep Selonding dan Semar Pegulingan kemudian membentuk gamelan baru yang menyajikan perpaduan keduanya," ujarnya.

Menariknya, Arik mengaku tidak menghadapi tantangan besar saat mengembangkan karya akademiknya menjadi sebuah kelompok seni yang hidup di masyarakat. Dukungan datang dari teman-teman seniman yang ikut mengembangkan Gamelan Pesel, serta kedua orang tuanya yang memberikan dukungan moral maupun finansial ketika dirinya masih berstatus mahasiswa.

Selain itu, bantuan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang lolos hingga tingkat nasional turut membantu pengembangan instrumen tersebut. Saat itu Arik bahkan sempat mempresentasikan gagasannya di Yogyakarta.

Nama 'Gamelan Pesel' sendiri baru muncul pada 2014 ketika Arik melanjutkan pendidikan magister. Nama tersebut diberikan oleh rekannya, I Made Antara, yang melihat karakter unik dari ansambel baru tersebut.

Kelompok musik karawitan Gamelan Pasel besutan I Wayan Arik Wirawan. Dokumentasi I Wayan Arik WirawanKelompok musik karawitan Gamelan Pasel besutan I Wayan Arik Wirawan. Dokumentasi I Wayan Arik Wirawan

Memasuki usia lebih dari satu dekade, Gamelan Pesel tidak hanya bertahan sebagai karya seni, tetapi juga berkembang menjadi komunitas yang solid. Arik mengaku terharu karena sebagian besar anggota yang sejak awal terlibat masih tetap berkesenian bersama hingga sekarang.

"Saya sangat terharu. Dari 2016, sekaa ini saya bangun dengan orang yang sama. Sampai sekarang tahun 2026 tetap dengan orang yang sama tanpa berkurang atau bertambah," katanya.

Menurut Arik, keberlangsungan kelompok tersebut menjadi sesuatu yang istimewa karena sebagian besar anggotanya kini telah berkeluarga dan memiliki kesibukan masing-masing. Meski demikian, mereka tetap menyempatkan diri untuk berlatih dan tampil ketika ada proyek kesenian.

Baginya, perjalanan Gamelan Pesel tidak hanya berbicara tentang musik, tetapi juga tentang kebersamaan dan komitmen menjaga kreativitas tetap hidup.

Optimisme itu pula yang membuat Arik yakin Gamelan Pesel masih memiliki masa depan panjang dalam karawitan Bali. Selain tampil dalam berbagai pertunjukan seni, kelompok tersebut juga aktif ngayah dalam kegiatan adat dan keagamaan.

"Masa depan saya optimistis. Banyak masyarakat yang menginginkan Gamelan Pesel terus dimainkan. Kami juga sering ngayah pada berbagai kegiatan dan dengan senang hati melakukan hal tersebut. Ini menjadi kebanggaan kami sebagai seniman karawitan Bali," ujarnya.

Tiga belas tahun setelah pertama kali dirancang sebagai proyek mahasiswa, Gamelan Pesel membuktikan bahwa sebuah karya akademik tidak harus berhenti di ruang kampus. Melalui konsistensi, dukungan komunitas, dan semangat berinovasi, karya tersebut terus hidup serta menjadi bagian dari perkembangan karawitan Bali di era modern.



(nor/nor)









Hide Ads