Seorang turis asal Amerika Serikat (AS) mendadak viral setelah mengaku tinggal di Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok, selama 10 hari. Melalui unggahan di akun Instagram @rastagraphy, pria tersebut mendokumentasikan kesehariannya di area transit, mulai dari menonton film, membaca buku, hingga beristirahat.
Hal itu dia lakukan sambil menunggu kejelasan nasibnya dan membagikannya di Instagram. Ia beralasan bahwa lonjakan harga tiket pesawat akibat konflik di Timur Tengah membuatnya tak mampu melanjutkan perjalanan.
Dilansir detikTravel dari laporan Channel 3 Thailand, pria tersebut sempat meminta manajemen maskapai untuk menanggung biaya tiket baru dan bersikeras akan tetap tinggal di bandara sampai ada solusi. Pihak otoritas mengungkapkan bahwa turis tersebut sebenarnya telah tiba dari Singapura sejak 15 Maret 2026, namun ia ditolak masuk (entry denial) karena tidak memenuhi persyaratan standar turis yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesuai aturan imigrasi yang berlaku, maskapai yang membawa penumpang tersebut bertanggung jawab mengatur perjalanan pulang atau perjalanan lanjutan. Namun, karena terkendala biaya dan tidak mampu membeli tiket baru segera, pria tersebut terpaksa tetap berada di area transit di bawah pengawasan pihak maskapai. Setelah pengaturan perjalanan selesai dilakukan, barulah pada 21 Maret 2026 turis itu meninggalkan Thailand.
Pihak berwenang menegaskan bahwa peran imigrasi berakhir setelah penolakan izin masuk diberikan. Logistik dan bantuan selanjutnya sepenuhnya ditangani oleh maskapai sesuai regulasi yang berlaku. Meski kisah ini memicu berbagai reaksi, pihak otoritas tetap meminta masyarakat untuk tidak menelan informasi secara mentah-mentah.
Dikutip dari VN Express, pada Sabtu (28/3/2026), meski menarik simpati netizen, otoritas Thailand mengimbau publik untuk memverifikasi informasi dengan saksama. Mereka memperingatkan bahwa "konten semacam itu terkadang dibuat hanya untuk memancing simpati atau meningkatkan keterlibatan (engagement) di media sosial."
Kasus ini menjadi peringatan bagi para pelancong internasional mengenai ketatnya aturan dokumen dan finansial. Kejadian serupa juga pernah menimpa seorang turis Eropa berusia 23 tahun pada Desember tahun lalu, yang ditolak masuk melalui Bandara Don Mueang karena dianggap tidak membawa dana yang cukup selama berkunjung.
(afb/afb)











































