Melihat Koleksi Sejarah di Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara

Melihat Koleksi Sejarah di Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara

Olivia Andrea - detikSumut
Sabtu, 07 Mar 2026 09:30 WIB
Koleksi Museum Pers Sumut. (Olivia Andrea/detikSumut)
Foto: Koleksi Museum Pers Sumut. (Olivia Andrea/detikSumut)
Medan -

Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara menyimpan berbagai arsip penting sejarah pers Indonesia. Museum ini berada di rumah pribadi milik tokoh pers legendaris H. Muhammad Tok Wan Haria (TWH) di Jalan Sei Alas No. 6, Kecamatan Medan Petisah, dan diresmikan pada 15 November 2019, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-87 tahun.

Museum tersebut berawal dari kegemaran TWH mengoleksi dokumen pers, foto, surat kabar lama, serta arsip perjuangan yang telah ia kumpulkan secara pribadi selama puluhan tahun. TWH dikenal sebagai wartawan senior dan veteran pers Sumatera Utara. Ia lahir di Aceh Utara pada 15 November 1932 dan mengabdikan sebagian besar hidupnya di dunia jurnalistik.

Beragam koleksi tersimpan di museum ini, mulai dari surat kabar lawas yang pernah terbit di Sumatera Utara hingga koran era kolonial. Salah satu koleksi unggulannya adalah Bataviasche Nouvelles, surat kabar pertama di Indonesia terbitan tahun 1744, yang ditampilkan dalam beberapa lembar. Selain itu, terdapat pula DeliKoran, Buruh Tapanuli, Nias Berita, Mandeuling,dan Parito Batak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koleksi Museum Pers Sumut. (Olivia Andrea/detikSumut)Koleksi Museum Pers Sumut. (Olivia Andrea/detikSumut)

Museum ini juga memamerkan foto tokoh pers, pahlawan nasional, Gubernur Sumatera Utara dari masa ke masa, buku-buku sejarah pers dan jurnalistik, alat jurnalistik seperti mesin ketik dan kamera, serta berbagai dokumen yang menggambarkan peran pers dalam perjuangan kemerdekaan, khususnya di Sumatera Utara.

Awalnya, seluruh koleksi tersebut hanya disimpan sebagai arsip pribadi di rumah. Namun, karena nilainya yang sangat penting bagi sejarah pers dan bangsa, TWH memutuskan membuka rumahnya sebagai museum edukatif agar dapat dimanfaatkan oleh generasi muda.

ADVERTISEMENT

"Terdapat 547 koleksi sejarah milik almarhum TWH. Namun, keterbatasan ruang membuat tidak semua koleksi dapat dipamerkan. Sebagian koleksi masih disimpan karena kondisi museum yang sempit," ujar sekretaris Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara, Mufti Mutawatir TWH, Jumat (6/3/2026).

Mufti yang juga cucu almarhum TWH berharap agar pemerintah dapat membantu pendirian museum pers yang lebih representatif di Sumatera Utara. Menurutnya, dukungan ruang dan pendanaan sangat dibutuhkan agar seluruh koleksi dapat dirawat dan dipamerkan secara maksimal untuk generasi mendatang.

"Saya berharap, agar pemerintah bersedia untuk membantu melestarikan dan mendirikan sebuah bangunan resmi museum pers di Sumatera Utara ini, agar bertujuan untuk para generasi ke depan dapat mengetahui koleksi sejarah dan menjadikan sebagai sarana edukasi bermanfaat untuk belajar tentang arsip sejarah di museum ini," katanya.

Saat ini, Museum Perjuangan Pers menjadi sarana edukasi sejarah bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan dan peran pers dalam sejarah Indonesia.




(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads