Ini 4 Cagar Budaya yang Harus Disinggahi saat Berkunjung ke Dairi

Datuk Haris Molana - detikSumut
Senin, 03 Okt 2022 06:59 WIB
Pohon singgangsora. Istimewa
Foto: Pohon singgangsora. Istimewa
Medan -

Kabupaten Dairi memiliki berbagai keindahan alam yang tak kalah asyik dengan daerah-daerah lain di Sumatera Utara (Sumut) dan Indonesia. Mereka yang datang, pastinya tak rugi dan memilik rasa ingin kembali menikmati wisata tersebut.

Selain alam, di daerah yang jaraknya sekitar 150 km dari Kota Medan itupun menyimpan beragam wisata. Wisata alam selama ini menjadi salah satu kekayaan Dairi. Karena Kabupaten yang dimekarkan dari Tapanuli Utara ini merupakan salah satu kabupaten yang masuk menjadi bagian dari Geopark Kaldera Toba (GKT).

Namun selain wisata alam, ada juga wisata cagar budaya. Ada beberapa cagar budaya yang tercatat di Dairi. Berikut dihimpun detikSumut dari situs https://cagarbudaya.sumutprov.go.id/arsip/wilayah/1210/kabupaten-dairi, di antaranya:


1. Batu Perabun Marga Cibro

Sesuai namanya Perabun atau wadah abu memiliki fungsi sebagai penyimpanan abu dari sisa sia tubuh manusia yang dibakar. Istilah lain yang serupa dengan perbun adalah pertulanen (wadah dari abu pembakaran tulang manusia).

Pada umumnya peninggalan semacam ini dipakai untuk menyimpan abu leluhur yang telah meninggal. Akan tetapi perabun milik marga Cibro ini diyakini penduduk untuk menyimpan abu musuh. Musuh yang tertangkap tersebut dimakan lalu sisa- sisa tulangnya dibakar hingga menjadi abu.

Perabun tersebut berdenah persegi dan pada bagian dalamnya terdapat lubang berdenah persegi pula. benda ini memiliki panjang 30 cm, lebar 23 cm dan tinggi 20 cm. Pada bagian atas dingding batu perabun terdapat ornamen berupa garis-garis. Berbeda dari peninggalan peninggalan lainnya di Desa tungtung batu yang dilindungi dalam Bak Khusus, Perabun ini diletakkan begitu saja dibawah sebatang pohon. Objek ini berada pada suatu lokasi dengan simanuk manuk sipitu takal, dengan jarak yang memn=bentangi keduanya sekitar 50 m.

Batu perabun marga Cibro ini berarda di Tungtung Batu, Tungtung Batu, Kecamatan Silima Pungga-pungga, Kabupaten Dairi

2. Simanuk-manuk Sipitu Takal

Simanuk-manuk sipitu takal berlokasi sekitar 300 M dari Pangulubalang, ditengah sebuah ladang yang tak ditanami. Objek ini juga di etakkan dalam bak bata. Secara harfiah, nama objek ini berarti burung yang memiliki tujuh kepala.

Menurut tradisi tutur setempat, burung tersebut diyakini membawa petunjuk namun kemudian diubah menjadi batu. burung yang telah menjadi batu tersebut dapat mengeluarkan suara berbeda dan akan berbunyi setelah mendengar tanda bahaya dari pangulubalang; Batu Tunggung ni Kuta dan Pohon Singgang Sora ( berarti suara kuat), Pohon beringin yang juga berlokasi didesa tersebut. Jika mendengar suara ini maka masyarakat akan berlari dan bersembunyi ke perisang Manuk. Simanuk-manuk sipitu takal sudah terbenam sebagian didalam tanah sehingga bentuknya menyerupai burung sudah tidak terlihat lagi, melainkan hanya tampak sebuah batu alam biasa. Bagian yang tersisa tersebut memiliki panjang 33 cm, lebar 22 cm dan tinggi 20 cm.

Keberadaannya itu di Desa Tungtung Batu, Tungtung Batu, Kecamatan Silima Pungga-pungga, Kabupaten Dairi.

3. Pohon Singgangsora

Pohon ini mempunyai legenda tersendiri bagi masyarakat Desa Tungtung Batu, Kecamatan Silima Punggapungga yang berjarak lebih kurang 35 Km dari ibu kota Kabupaten Dairi. Usia dari pohon ini diperkirakan lebih kurang 400 Tahun.

Dahulu kala jika ada musuh ataupun bencana yang melanda tungtung Batu akan ada nada suara petir yang bersahutan walaupun tidak ada angin atupun hujan dan salah satu dahan atau ranting akan patah jika ada penduduk dari desa ini yang akan meninggal dunia. Pohon ini berkaitan dengan Benda Cagar Budaya Tunggung Kuta, Mejan Pangulubalang Cibro , Simanuk manuk Sipitu Takan dan Batu Perabun. Informan merupakan generasi ke 16 Marga Cibro.

4. Baju Loyang Marga Kudadiri

Benda cagar budaya ini berada di binara Desa Laenuaha, Kecamatan Siempat Nempu Hulu Kabupaten Dairi. Baju Loyang atau Baju Perang Raja ini sudah ada pada Marga Kudadiri sekitar tahun 1870, dan pada tahun 1908 diwariskan kepada keturunannya (Raja Pandua). Baju Loyang bisa digunakan Raja Pandua (Parmangmang) pada saat hendak menanam padi di wilayah Marga Kudadiri. Sejak padi ditanam Siparmangmang tidak diperkenankan memotong rambut hingga musim panen hingga musim paden karena titah dari Marga Kudadiri.



Simak Video "Pulau Samosir, Pesona Pemandangan Indah di Tengah Danau Toba, Sumatera Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(dhm/bpa)