Agenda pariwisata Pacu Jalur di Sungai Kuantan bakal digelar Agustus mendatang. Kepastian ini setelah ditetapkan dalam Kharisma Event Nusantara 2022 yang telah dirilis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Pelaksana Tugas Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby mengatakan, Pacu Jalur terakhir digelar tahun 2019 lalu. Saat itu, peserta memperebutkan piala bergilir dari Menteri Pariwisata dan total hadiah uang tunai senilai ratusan juta rupiah.
"Pada tahun 2020 dan 2021 Festival Pacu Jalur sempat ditiadakan karena pandemi COVID-19. Mudah-mudahan tahun ini agenda Pacu Jalur bisa dihelat kembali di Kuantan Singingi," kata Suhardiman, Selasa (5/4/2022).
Baca juga: Mi Sagu, Kuliner Khas Pesisir Riau |
Suhardiman menyebutkan, penyelenggaraan Pacu Jalur sudah sangat dirindukan masyarakat. Sebab, tradisi dari nenek moyang itu sudah digelar sejak ratusan tahun lalu.
"Tahun ini kita harus bisa bangkit, meski dengan keterbatasan. Tapi memang untuk vaksinasi kita juga sudah sangat baik dan siap menyambut Pacu Jalur yang sangat dirindukan dan dinantikan masyarakat," katanya.
Pacu Jalur sendiri merupakan perlombaan dayung di sungai dengan perahu panjang yang terbuat dari sebatang kayu. Di mana dalam bahasa penduduk setempat Jalur berarti perahu besar yang terbuat dari sebatang kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung.
"Panjang perahu ini bisa mencapai 25 meter hingga 40 meter. Lebar bagian tengahnya kira-kira 1,3 meter hingga 1,5 meter. Untuk tahun berikutnya ini akan ada tiga agenda Pacu Jalur dan yang terakhir digelar di Tepian Narosa," imbuh Suhardiman.
Ke depan, agenda Pacu Jalur bakal digelar untuk kebangkitan ekonomi masyarakat setempat, termasuk mendukung adat budaya di Kota Jalur yang dikenal masyarakat.
Sejarah Tradisi Pacu Jalur
Konon, Pacu Jalur sudah ada sejak tahun 1903. Artinya sudah 119 tahun tradisi ini dilestarikan oleh masyarakat di Kuantan Singingi. Pada awalnya kegiatan ini berupa pesta rakyat Abad 17 dalam memperingati ulang tahun Ratu Helmina asal Belanda di Baserah, tepatnya di Lubuak Sobe.
![]() |
Kemudian tradisi itu beralih untuk memperingati hari besar Islam. Seiring perkembangan zaman, Pacu Jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
"Pacu Jalur merupakan satu di antara warisan budaya tak benda asal Provinsi Riau. Pembukaan event ini setiap tahunnya berlangsung cukup meriah. Masyarakat datang tumpah ruah memenuhi tribun dan tepian Narosa, Taluk Kuantan," kata Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal Zein.
Masyarakat juga sangat antusias dengan Pacu Jalur. Mereka bersuka cita menyambut tradisi yang serat akan nilai sejarah ini.
Khusus untuk jalur, Yoserizal menilai untuk menebang pohon harus ada ritual khusus dan prosesinya. Bukan sembarang pohon ditebang, saat akan membuat jalur warga menilainya sebagai acara adat yang sakral.
"Untuk jalur juga ada ornamen-ornamen dibuat menggambarkan tradisi daerah seperti Lubuk Jambi, Inuman, Pangean dan dari daerah lain di Kuansing," katanya.
Jauh sebelum pelaksanaan Pacu Jalur, ada tradisi dan prosesi adat bernama Maelo Jalur. Maelo Jalur yaitu kegiatan menyeret batang jalur atau kayu bulat jenis kempas.
Kayu tersebut berdiameter 60 cm dengan panjang 30 hingga 50 meter diikatkan dengan tali rotan. Selanjutnya kayu tersebut ditarik ke kampung lokasi pembuatan oleh sejumlah orang.
"Kayu yang dipilih menjadi jalur bukan kayu sembarangan. Biasanya dicari di tengah hutan dan melibatkan ritual oleh seorang pawang," kata Yoserizal.
Setelah kayu didapat, proses Maelo Jalur pakai rotan ke kampung dilaksanakan. Dalam prosesi ini ada beberapa aturan yang harus disepakati untuk menjaga kekompakan.
Pada masa lampau, Maelo Jalur diikuti hampir seluruh penduduk kampung. Mereka bergotong royong menjalin rasa kekompakan dan kebersamaan.
Lewat kekuatan dan kebersamaan kayu jalur bisa sampai ke kampung. Kegiatan sudah menjadi tradisi ditunggu-tunggu masyarakat, terutama para pemuda dan pemudi Kuansing.
Setelah prosesi menarik jalur selesai, kayu bulat itu dibuat menjadi jalur atau perahu sampan yang bisa memuat 60 pendayung. Pembuatnya adalah satu orang profesional diampingi lima orang asisten.
Proses produksi memakan waktu sebulan sampai dua bulan. Sementara biaya pembuatannya mencapai puluhan juta rupiah.
(ras/dpw)