7 Fakta Menarik PSMS Medan, Dijuluki The Killer hingga Raja Perserikatan

Sepakbola

7 Fakta Menarik PSMS Medan, Dijuluki The Killer hingga Raja Perserikatan

Nanda M Marbun - detikSumut
Kamis, 19 Feb 2026 12:50 WIB
Logo Klub Liga 1 mulai dari Arema, Bali United, Borneo FC, Bhayangkara, Madura United, Mitra Kukar, Persebaya, Persela, Perseru, Persib, Persija, Persipura, PS Tira, PSIS, PSM, PSMS, dan Sriwijaya FC
Foto: Infografis Detiksport
Medan -

PSMS Medan merupakan salah satu klub sepakbola tertua dan paling bersejarah di Indonesia. Klub ini didirikan pada 21 April 1950 di Kota Medan, Sumatera Utara, dan dikenal dengan julukan Ayam Kinantan. Sejak awal berdiri, PSMS menjadi simbol kebanggaan masyarakat Medan dan Sumatera Utara. PSMS Medan merupakan salah satu klub sepakbola paling bersejarah di Indonesia.

Klub kebanggaan masyarakat Sumatera Utara (Sumut) ini tidak hanya dikenal karena prestasinya, tetapi juga karena perjalanan panjangnya yang lahir dari semangat persatuan dan menjadi simbol kekuatan sepakbola Kota Medan. Sejak berdiri pada 1950, PSMS telah melewati berbagai era, mulai dari masa kejayaan Perserikatan hingga menjadi salah satu klub dengan basis pembinaan terbesar di Indonesia.

Berikut fakta menarik PSMS Medan yang penuh nilai sejarah dan penting untuk diketahui, yuk simak selengkapnya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

7 Fakta Tentang PSMS Medan

1. Disatukan dari 23 Klub di Medan

PSMS Medan resmi berdiri pada 21 April 1950 melalui penyatuan 23 klub sepak bola yang ada di Kota Medan. Klub-klub tersebut antara lain Al Whatan, Ardjuna, Bintang Merah, Dinamo, Deli MY, Medan Putra, Netral, Parenakan Thionghoa, Persatuan Olahraga Polisi, Sahata, hingga India Football Team dan Union Football Team.

ADVERTISEMENT

Penyatuan ini menjadi langkah besar dalam membangun kekuatan sepak bola Medan. Dengan bergabungnya puluhan klub tersebut, PSMS menjadi representasi sepak bola Kota Medan secara utuh dan terorganisir.

2. Jadi Simbol Persatuan

PSMS Medan lahir dari klub-klub yang mewakili berbagai komunitas dan etnis yang ada di Medan. Ada klub yang identik dengan komunitas Arab, Batak, Melayu, India, hingga Tionghoa.

Keberagaman ini menjadikan PSMS bukan sekadar klub sepak bola, tetapi juga simbol persatuan masyarakat Medan. Sejak awal berdiri, PSMS sudah mencerminkan semangat kebersamaan lintas latar belakang yang bersatu dalam satu identitas.

3. Logo PSMS Memuat Identitas Kota Medan dan Tahun Berdiri

Identitas PSMS juga tercermin dalam logonya. Angka 1950 yang tersemat dalam lambang klub menandakan tahun berdirinya. Selain itu, terdapat simbol daun tembakau dan bunga yang menjadi ciri khas Tanah Deli.

Tembakau merupakan komoditas penting yang identik dengan sejarah Kota Medan. Kehadiran simbol tersebut memperkuat bahwa PSMS merupakan klub yang lahir dari akar budaya dan sejarah daerahnya.

4. Pernah Bermarkas di Jalan Veteran yang Kini Jadi Hotel

Setelah berdiri, PSMS Medan memiliki sekretariat di Gedung PSMS yang berada di Jalan Veteran. Gedung tersebut menjadi pusat aktivitas klub sejak 1955 hingga 1972.

Sementara itu, lapangan yang digunakan saat itu bernama Lapangan Medan Putra. Kini lapangan tersebut sudah tidak ada lagi dan berdiri bangunan Hotel Madani di lokasi tersebut. Sejak 1953, PSMS kemudian menggunakan Stadion Teladan sebagai markas pertandingan, yang hingga kini masih menjadi stadion bersejarah bagi klub tersebut.

5. Dijuluki The Killer

Pada era 1950-an hingga 1970-an, PSMS Medan dikenal dengan julukan "The Killer". Julukan ini muncul karena PSMS kerap mengalahkan tim-tim kuat, bahkan dari luar negeri.

PSMS dikenal sebagai tim yang sangat tangguh dan sulit dikalahkan. Bahkan ketika menghadapi klub luar negeri, PSMS mampu memberikan perlawanan sengit dan jarang kalah dengan selisih skor besar. Julukan ini menjadi bukti kekuatan PSMS pada masa kejayaannya.

6. Julukan Ayam Kinantan Berasal dari Klub Anggota Medan Putra

Julukan Ayam Kinantan yang melekat pada PSMS Medan ternyata berasal dari salah satu klub anggotanya, yakni Medan Putra. Julukan tersebut kemudian menjadi identitas utama PSMS, terutama setelah klub meraih gelar juara Perserikatan pada 1985.

Selain itu, julukan ini semakin dikenal luas berkat peran wartawan senior Medan yang mempopulerkannya dalam berbagai tulisan. Hingga kini, Ayam Kinantan menjadi simbol kebanggaan PSMS Medan.

7. Klub Tersukses di Era Perserikatan

PSMS Medan menjadi klub tersukses di era Perserikatan PSSI setelah Indonesia merdeka dengan meraih enam gelar juara, yakni pada 1967, 1969, 1971, 1975, 1983, dan 1985.

Selain prestasi di level nasional, PSMS juga memiliki sistem pembinaan yang sangat besar. Pada pertengahan 1980-an, klub anggota PSMS terbagi dalam empat divisi, yaitu Divisi Utama, Divisi Satu, Divisi Dua, dan Divisi Tiga.

Beberapa klub yang berada di Divisi Utama antara lain Sinar Medan, Indonesia Muda, Bintang Utara, Dinamo, Medan Utara, hingga Medan Putra. Struktur ini menunjukkan bahwa PSMS tidak hanya kuat sebagai tim utama, tetapi juga memiliki fondasi pembinaan sepak bola yang besar dan terorganisir.

PSMS Medan bukan sekadar klub sepak bola biasa. Klub ini lahir dari semangat persatuan, tumbuh menjadi kekuatan besar, dan mencatatkan sejarah sebagai salah satu tim paling ditakuti di Indonesia.

Julukan Ayam Kinantan dan "The Killer" menjadi bukti bahwa PSMS Medan pernah berdiri sebagai raksasa sepak bola nasional. Hingga kini, nama PSMS tetap menjadi simbol kebanggaan masyarakat Medan dan bagian penting dari sejarah sepak bola Indonesia.

Artikel ini ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Viral! Kapten PSMS Medan Malah Dipukul Usai Laga Lawan Sumsel United"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads