Masyarakat baik sadar atau tidak sadar mungkin pernah bergibah atau bergosip. Bahkan, kini lebih modern dengan tren bergibah melalui media sosial yang justru semakin berbahaya apalagi pada bulan Ramadan.
"Sekarang teknologi sudah semakin canggih, mengibahnya tidak lagi ketemu orang, cukup melalui sosial media. Apakah melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, atau Tikok, apapun itu selain bisa mengantarkan informasi kepada orang lain, kita bisa menggunakan fasilitas itu untuk mengibah kepada orang lain," ungkap Dekan Fakultas Agama Islam UMSU Zailani dalam program Kultum Ramadan detikSumut, Sabtu (21/2/2026).
Zailani menyebutkan bahwa bergibah baik tatap muka ataupun melalui media sosial itu tetap salah. Terlebih apabila bergibah hal yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya yang jadinya malah fitnah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengibah apapun media yang kita gunakan itu tetap salah. Nah beda gibah dengan fitnah. Kalau fitnah itu menceritakan sesuatu yang faktanya tidak ada," ujarnya.
Gibah, kata Zailani, tidak memberikan dampak positif ataupun berguna bagi yang menyebarkan maupun yang mendengarkan.
"Kalau gibah, menceritakan sesuatu yang efek manfaatnya tidak ada sama kita maupun orang lain, ini disebut gibah. Contohnya, ada orang duduk di samping kita dan buang angin. Inikan suatu kehendak tubuh yang tidak bisa disangkal dan apabila ditahan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Setelah buang angin dia, kita sampaikan ke orang lain," jelasnya.
"Andaikan ini tidak diceritakan enggak ada juga pengaruhnya, diceritakan juga enggak ada untungnya sama kita, ini namanya gibah," sambungnya.
Namun, Zailani mengatakan jika gibah dalam bentuk kepentingan yang berhubungan secara hukum diperkenankan.
"Tetapi apabila cerita tadi berhubungan dengan hukum, kalau tidak kita ceritakan itu kita menolong dalam bentuk dosa. Contoh kita melihat ada maling sepeda motor lalu dia bawa sepeda motornya dan tahu arahnya. Lalu yang punya motor bertanya kepada kita. Kita harus ceritakan karena itu menyangkut hak orang lain," jelasnya.
Zailani menegaskan bahwa gibah dapat melunturkan pahala yang sudah kita dapatkan hanya dari perkataan mulut ataupun ketikan jari saja.
"Gibah yang dimaksud sekarang yaitu menceritakan sesuatu yang secara sisi hukum tidak ada kena hukum bagi kita yang menyampaikan gibah ini sama saja seperti kita memakan bangkai saudara kita sendiri.
Hindari gibah karena menghabiskan pahala kita. Hindari menceritakan orang lain karena sesungguhnya kita pun tidak baik baik saja dalam pandangan Allah," pungkasnya.
detikSumut menghadirkan program Kultum Ramadan dengan topik menarik seputar Ramadan. detikers dapat menyaksikan melalui Instagram, TikTok, dan Facebook detikSumut yang tayang setiap hari pukul 17.00 WIB.
(ksr/nkm)











































