Berita Nasional

Mahfud Sebut Orang-orang Irjen Sambo Sembunyikan Kasus dari Kapolri

Tim detikNews - detikSumut
Kamis, 18 Agu 2022 20:59 WIB
Menko Polhukam
Menko Polhukam Mahfud Md (Iswahyudi / 20detik)
Medan -

Menko Polhukam Mahfud Md menilai adanya kelompok-kelompok yang menghalangi Kapolri untuk menuntaskan kasus di internal Polri. Mahfud juga memberikan contoh kasus tewasnya Brigadir J yang melibatkan Irjen Ferdy Sambo yang merupakan mantan Kadiv Propam Polri.

"Kalau saya memahaminya karena di Polri itu memang ada pusat-pusat kekuatan. Jadi kenapa Kapolri itu tidak selalu mudah menyelesaikan masalah, karena dia sebenarnya meskipun secara formal dia menguasai, tapi di situ ada kelompok-kelompok yang bisa menghalangi, termasuk yang kasus (Ferdy Sambo) ini kan," kata Mahfud dalam podcast bersama Akbar Faizal yang disiarkan melalui YouTube, dilansir dari detikNews, Kamis (18/8/2022). detikcom sudah mendapatkan izin untuk mengutip pernyataan Mahfud.

Mahfud menuturkan dalam kasus tewasnya Brigadir J ini ada informasi yang disembunyikan orang-orang dari Ferdy Sambo sehingga membuat kasus ini seakan lambat diproses. Meski demikian, Mahfud menyebut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo cukup responsif menerima dan menjawab masukan dari berbagai pihak terkait penanganan kasus tersebut.


"Misalnya yang kasus Sambo ini disembunyikan dari Kapolri oleh orang-orangnya Sambo, sehingga Kapolri agak terasa lambat, tapi dia kan apa, responsif terhadap isu-isu dari luar. Misalnya komunikasi dengan kita dengan masyarakat dia jalan meskipun agak terlambat tapi itu menunjukkan bahwa perlu ada pembenahan di Polri itu agar terjadi kesatuan sebagai sebuah institusi pemerintah di bidang keamanan," ujarnya.

Mahfud juga mengungkapkan jika Ferdy Sambo saat menjabat sebagai Kadiv Propam Polri memiliki kekuasaan yang besar. Bahkan banyak yang takut kepada Sambo.

"Jadi begini, di Div Propam itu, Kadiv Propam (Irjen Ferdy Sambo) mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Karena Div Propam itu mempunyai sebagai Divisi ada di sini direktorat-direktoratnya atau deputinya itu yang semua di bawah kuasanya, yang menyelidiki ini yang memeriksa ini, yang memberikan hukum ini, yang mengeksekusi ini, yang memindah orang ini, yang memecat ini dan semuanya harus persetujuan Pak Sambo," kata Mahfud.

"Pada akhirnya mulai dari memeriksa, menghukum, mengadili memindah, menaikan di situ memberikan fasilitas, apa, ada di Kepala Divisi ini, ada di Kadiv. Itu lah sebabnya mungkin sebaiknya pakai sistem ketatanegaraan kita aja. Yang memeriksa dan yang menghukum beda dong, gitu. Sehingga disejajarkan aja dengan Sambo menurut saya orang-orang ini. Nah itu pikiran aja ya, agar tidak ada di satu tangan. Sekarang kan pada takut juga, yang saya dengar, 'Pak bintang tiga pun nggak bisa, lebih tinggi dari dia' meskipun secara struktural iya," sambungnya.

Mahfud mengatakan kelompok-kelompok yang ada di dalam tubuh Polri bukan merupakan sebuah rahasia lagi. Dia menyebut kelompok-kelompok itu sudah terbentuk sejak lama.

"Bagaimana pun itu kan bukan rahasia,kelompok-kelompok itu kan sudah banyak dari dulu. Ada yang kelompok A, kelompok B, kelompok C, ada Brimob, Bareskrim, Div Propam ada apa lagi, itu yang itu tidak sepenuhnya itu satu ini," imbuhnya.



Simak Video "Irjen Ferdy Sambo Terancam Hukuman Mati"
[Gambas:Video 20detik]
(afb/afb)