Eks Calon Wawalkot Tanjungbalai Dituntut 15 Tahun Penjara

Perdana Ramadhan - detikSumut
Senin, 13 Jun 2022 17:13 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi pencabulan (Foto: Andhika Akbarayansyah)
Tanjungbalai -

Eks Calon Wakil Wali Kota (Wawalkot) Tanjungbalai, Gustami Alias Buya dituntut 15 tahun penjara oleh jaksa penuntut atas kasus persetubuhan terhadap seorang anak di bawah umur. Perbuatan itu dilakukan terdakwa saat menjadi kepala sekolah sejak tahun 2013 hingga 2017.

Dilihat detikSumut, Senin (13/6/2022), dari situs SIPP PN Tanjungbalai terdakwa Gustami alias Buya telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja melakukan tipu muslihat serangkaian kebohongan atau memujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau melakukan persetubuhan dengan orang lain.

Perbuatan tersebut, diatur dengan ancaman pidana pasal 81 ayat (2) Undang Undang RI nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu No. 01 Tahun 2016 jo UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 23 Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak sebagaimana dalam dakwaan alternatif kedua.


"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Gustami alias Buya, dengan pidana penjara selama 15 tahun dengan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara ditambah dengan denda sebesar Rp 200 juta subsidair enam bulan kurungan dan dengan perintah terdakwa tetap ditahan," tulis jaksa dalam dakwaannya.

Kasi Intelijen Kejari Tanjungbalai Dedi Saragih membenarkan tuntutan yang diberikan terhadap terdakwa. Menurutnya, ada beberapa hal yang memberatkan terdakwa hingga jaksa menuntutnya 15 tahun penjara atas perbuatannya.

"Hal-hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa telah merusak nilai-nilai kesusilaan di tengah masyarakat, terdakwa merupakan tokoh masyarakat dan tidak memberikan contoh yang baik, serta terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan berbelit-belit dalam memberikan keterangan di depan persidangan," kata Dedi.

Sebelumnya, dalam persidangan, keluarga mengungkapkan UH yang menjadi korban pelecehan seksual oleh Gustami mengalami depresi dan nyaris bunuh diri. Korban bahkan sempat menyayat tangannya.

"Stres dia (korban) sampai waktu itu kasus ini pertama kali terbongkar dia mau bunuh diri. Sudah disayat-sayat itu pergelangan tangannya," kata ibu korban, NS.

Rencana UH untuk bunuh diri itu diketahui keluarga dan langsung dicegah. Keluarga bisa berusaha menyemangati korban. "Jangan nak, takutlah sama Allah. Yang di dunia ini tidak ada apa apanya dibanding di akhirat nanti. Sabarlah, kita harus kuat. Saya bilang gitu menguatkan dia," ungkap NS.

NS, telah hadir memenuhi undangan dan keterangannya didengar sebagai saksi. Rekan sekolah anaknya yang turut juga dihadirkan sebagai saksi. Ia mengatakan, harus mendampingi perjuangan ketiga saksi lainnya sampai ke pengadilan.

Para saksi, sebut dia, sudah diintimidasi oleh oknum di sana. "Sudah ada intimidasi ini ke orang ini. Mereka sudah didatangi supaya jangan hadir menjadi saksi di pengadilan dibuat surat pernyataan tapi mereka tak mau tanda tangan," ujarnya.



Simak Video "Ikan Arwana Harga Rp 10 Juta Dipanggang, Seperti Apa Rasanya?"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)