Siswi Korban Pencabulan Eks Calon Wawalkot Tanjungbalai Nyaris Bunuh Diri

Perdana Ramadhan - detikSumut
Rabu, 13 Apr 2022 07:41 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi Pencabulan Anak (Foto: Andhika Akbarayansyah)
Tanjungbalai -

Perkara pencabulan oleh mantan calon wakil wali kota (wawalkot) Tanjungbalai, Gustami, kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungbalai, Selasa (12/4/2022) kemarin. Gustami didakwa melakukan persetubuhan terhadap anak di bawah umur.

Agenda sidang kali ini adalah mendengar keterangan saksi-saksi. Jaksa mendatangkan orangtua dan teman-teman korban.

Dalam persidangan, keluarga mengungkapkan UH yang menjadi korban pelecehan seksual oleh Gustami mengalami depresi dan nyaris bunuh diri. Korban bahkan sempat menyayat tangannya.


"Stres dia (korban) sampai waktu itu kasus ini pertama kali terbongkar dia mau bunuh diri. Sudah disayat-sayat itu pergelangan tangannya," kata ibu korban, NS.

Rencana UH untuk bunuh diri itu diketahui keluarga dan langsung dicegah. Keluarga bisa berusaha menyemangati korban. "Jangan nak, takutlah sama Allah. Yang di dunia ini tidak ada apa apanya dibanding di akhirat nanti. Sabarlah, kita harus kuat. Saya bilang gitu menguatkan dia," ungkap NS.

NS, telah hadir memenuhi undangan dan keterangannya didengar sebagai saksi. Rekan sekolah anaknya yang turut juga dihadirkan sebagai saksi. Ia mengatakan, harus mendampingi perjuangan ketiga saksi lainnya sampai ke pengadilan.

Para saksi, sebut dia, sudah diintimidasi oleh oknum di sana. "Sudah ada intimidasi ini ke orang ini. Mereka sudah didatangi supaya jangan hadir menjadi saksi di pengadilan dibuat surat pernyataan tapi mereka tak mau tanda tangan," ujarnya.

Terpisah, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Asahan, Rikardo Simanjuntak menjelaskan saat agenda persidangan telah sampai pada tahap mendengarkan keterangan saksi.

"Hari ini menghadirkan tiga orang saksi, mereka merupakan teman di bangku sekolah bersama korban," ujarnya.

Terkait adanya upaya intimidasi dan surat pernyataan untuk tak hadir di persidangan dan keberatan diikutkan dalam kasus tersebut, pihaknya menyatakan sudah mengetahui hal tersebut.

"Memang informasi itu masuk ke kami sejauh ini ketiga saksi itu kooperatif sudah memberikan keterangan sesuai fakta," kata dia.

Sebelumnya dikutip dalam dakwaan, mantan calon wakil wali kota (wawalkot) Tanjungbalai, Gustami, menjalani sidang sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungbalai. Dia didakwa melakukan persetubuhan terhadap anak di bawah umur.

"Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa di ruang kepala sekolah sejak tahun 2013 sampai tahun 2017," kata Kasi Pidana Umum, Rikardo Simanjuntak, kepada wartawan, 30 Maret lalu.

Saat peristiwa itu terjadi, terdakwa berstatus sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah swasta di Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjungbalai. Sementara korban ketika itu masih duduk di kelas VII dan masih berusia 13 tahun.

Dalam berkas dakwaan, pada tanggal dan bulan yang tidak dapat dipastikan lagi pada tahun 2013 sekitar pukul 10.00 WIB korban dipanggil oleh guru piket melalui pengeras suara sekolah untuk menghadap terdakwa selaku kepala sekolah.

Kemudian korban masuk ke ruangan terdakwa dan bertemu dengan terdakwa sendirian di ruang kepala sekolah. Terdakwa kemudian dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat dengan cara memberi anak korban sebuah buku hadis.

Terdakwa selalu membujuk korban untuk mau dilakukan perbuatan cabul dengan janji akan dinikahkan serta memberikan hadiah kepada korban mulai dari gelang, aksesori kerajinan tangan hingga sejumlah uang.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 82 ayat (1) UU No. 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perppu No. 01 Tahun 2016 juncto UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 64 KUHP.



Simak Video "Dua Emak-emak di Pinrang Dibekuk Terkait Perdagangan Anak Lintas Negara"
[Gambas:Video 20detik]
(dpw/dpw)