Habonaron sebagai kepercayaan asli masyarakat Simalungun memang telah lama memudar. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ternyata masih hidup dan dapat ditemukan dalam berbagai tradisi serta upacara adat yang dijalankan masyarakat hingga saat ini.
Penulis dan akademisi Erond L. Damanik menjelaskan bahwa meskipun tidak lagi ditemukan masyarakat yang secara terbuka mengaku sebagai penganut Habonaron, warisan nilai kepercayaan tersebut masih melekat dalam kehidupan budaya masyarakat Simalungun.
"Nilai-nilai Habonaron tetap hidup di Simalungun meskipun kepercayaan itu telah memudar," ujar Erond.
Menurutnya, hasil survei yang dilakukan pada 2004 hingga 2005 tidak menemukan lagi masyarakat yang mengidentifikasi diri sebagai Parhabonaron atau penganut Habonaron. Meski demikian, hilangnya kepercayaan tersebut tidak serta-merta menghapus nilai-nilai yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Jejak Habonaron, kata Erond, masih dapat dilihat dalam berbagai upacara adat dan ritus peralihan yang dijalankan masyarakat Simalungun hingga sekarang.
"Benar, masih kental. Hampir seluruh upacara-upacara dan ritus peralihan di Simalungun mencerminkan unsur-unsur Habonaron," katanya.
Habonaron sendiri merupakan kepercayaan asli masyarakat Simalungun yang mengajarkan kebajikan dan keseimbangan antara manusia dengan alam semesta. Dalam ajarannya, manusia dipandang sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang harus menjaga hubungan harmonis dengan sesama, lingkungan, serta Sang Pencipta.
"Agama ini berintikan kebajikan tentang sesama manusia, hewan, tumbuhan ataupun lingkungan. Ini adalah keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos yakni manusia dan lingkungan alam atau jagad raya," jelas Erond.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya, masih tercermin dalam berbagai praktik budaya masyarakat Simalungun, meskipun sebagian besar masyarakat kini telah memeluk agama-agama modern seperti Islam dan Kristen.
Erond menilai keberlanjutan unsur-unsur Habonaron dalam adat menunjukkan bahwa perubahan agama tidak selalu menghilangkan identitas budaya suatu masyarakat. Sebaliknya, sebagian nilai leluhur dapat beradaptasi dan tetap bertahan dalam bentuk tradisi serta falsafah hidup.
Hal itu juga terlihat dalam lahirnya konsep Habonaron do Bona yang dirumuskan dalam Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1963. Falsafah tersebut mengangkat nilai kebenaran sebagai dasar kehidupan masyarakat Simalungun dan berakar dari warisan pemikiran Habonaron.
"Memang, Habonaron do Bona itu berasal dari nama keyakinan orang Simalungun yakni Habonaron. Hanya saja, dalam konsep Habonaron do Bona, adalah kebenaran sebagai basis," ujar Erond.
Bagi masyarakat Simalungun, Habonaron mungkin tidak lagi hadir sebagai sebuah agama yang dianut secara luas. Namun, jejaknya masih hidup dalam adat, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan itulah yang membuat Habonaron tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Simalungun hingga hari ini.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Gudang Penimbunan BBM Ilegal di Lampung Kebakaran"
(afb/afb)