Desa Naualuh dan Kisah Asal-usul Manusia Menurut Habonaron

Desa Naualuh dan Kisah Asal-usul Manusia Menurut Habonaron

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Sabtu, 06 Jun 2026 06:31 WIB
Arca batu pemujaan di Dologsilou, Simalungun, 1938. (Sumber : kitlv.nl)
Foto: Arca batu pemujaan di Dologsilou, Simalungun, 1938. (Sumber : kitlv.nl)
Medan -

Jauh sebelum masyarakat Simalungun mengenal Islam dan Kristen, mereka telah memiliki kisah sendiri tentang asal-usul manusia dan penciptaan dunia. Kisah tersebut hidup dalam Habonaron, kepercayaan asli masyarakat Simalungun yang berkembang selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.

Penulis dan akademisi, Erond L Damanik menjelaskan Habonaron merupakan agama atau keyakinan asli masyarakat Simalungun yang memiliki konsep penciptaan alam semesta dan manusia sebagaimana agama-agama tradisional lainnya.

"Habonaron adalah agama atau keyakinan asli orang Simalungun. Sama seperti agama-agama tradisional lainnya, agama ini memiliki dewata tertinggi yang disebut Naibata (Tuhan), serta memiliki dewa-dewi hingga melahirkan manusia pertama di 'Desa Naualuh' yang tersebar ke seluruh Simalungun," ujar Erond.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kisah Desa Naualuh menjadi bagian dari kosmologi masyarakat Simalungun, yakni cara pandang masyarakat terhadap asal-usul manusia, alam semesta, dan hubungan manusia dengan penciptanya.

Catatan mengenai kepercayaan tersebut telah didokumentasikan sejak masa kolonial. Erond menyebut salah satu dokumentasi awal dapat ditemukan dalam karya peneliti Belanda J Tideman pada 1922 yang menuliskan kisah penciptaan jagat raya dan manusia menurut masyarakat Simalungun.

ADVERTISEMENT

"Dalam bukunya tahun 1922, J. Tideman menyalin kisah penciptaan jagad raya dan manusia di Simalungun. Itu adalah catatan perdana yang mengisahkan tentang kehidupan agama Habonaron di Simalungun," katanya.

Bagi masyarakat Simalungun masa lalu, kisah asal-usul manusia bukan sekadar cerita rakyat. Cerita tersebut menjadi dasar pemahaman tentang posisi manusia dalam kehidupan serta hubungan yang harus dijaga dengan alam dan sesama.

Erond menjelaskan inti ajaran Habonaron berlandaskan kebajikan dan keseimbangan. Dalam keyakinan ini, manusia dipandang sebagai bagian dari tatanan alam yang lebih besar dan harus hidup selaras dengan lingkungannya.

"Agama ini berintikan kebajikan tentang sesama manusia, hewan, tumbuhan ataupun lingkungan. Ini adalah keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos yakni manusia dan lingkungan alam atau jagad raya," ujarnya.

Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kepercayaan Habonaron mulai menghadapi perubahan besar seiring masuknya agama-agama samawi dan kolonialisme ke Simalungun. Islam lebih dahulu berkembang di Bandar pada 1886, disusul Protestan di Raya pada 1903 dan Katolik di Haranggaol pada 1937.

Meski kepercayaan Habonaron perlahan memudar, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak sepenuhnya hilang. Erond menyebut nilai tersebut tetap hidup dalam adat istiadat dan budaya masyarakat Simalungun hingga saat ini.

Pada Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1963, nilai-nilai Habonaron kemudian dirumuskan kembali dalam falsafah hidup Habonaron do Bona, yang menempatkan kebenaran sebagai dasar kehidupan masyarakat Simalungun. Menurut Erond, istilah Habonaron do Bona memang berasal dari nama keyakinan Habonaron, namun dalam konsep tersebut yang ditekankan adalah kebenaran sebagai basis kehidupan.

"Memang, Habonaron do Bona itu berasal dari nama keyakinan orang Simalungun yakni Habonaron. Hanya saja, dalam konsep Habonaron do Bona, adalah kebenaran sebagai basis," jelasnya.

Kini, meski Desa Naualuh lebih banyak dikenal sebagai bagian dari kisah kosmologi leluhur, cerita tersebut tetap menjadi salah satu jejak penting untuk memahami bagaimana masyarakat Simalungun memandang asal-usul manusia, alam semesta, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Poltracking: Kepercayaan Publik ke Pemerintahan Prabowo-Gibran 81,5 %"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads