Mengenal Tuah Sakato, Nilai Kebersamaan dalam Budaya Minangkabau

Mengenal Tuah Sakato, Nilai Kebersamaan dalam Budaya Minangkabau

Siti Asyaroh - detikSumut
Selasa, 28 Apr 2026 22:01 WIB
Mengenal Tuah Sakato, Nilai Kebersamaan dalam Budaya Minangkabau
Foto: Ilustrasi rumah gadang. (Getty Images/iStockphoto/Ismail Rajo)
Medan -

Tuah Sakato merupakan nilai penting dalam budaya Minangkabau, yang menekankan kebersamaan dan kesepakatan dalam kehidupan sosial. Konsep ini sejak lama sudah menjadi pegangan hidup masyarakat Minangkabau.

Budayawan Minangkabau, Buya Zuari Abdullah, menjelaskan bahwa Tuah Sakato lahir dari kedewasaan berpikir dan kesadaran manusia akan hubungan sebab akibat dalam kehidupan. Nilai ini kemudian membentuk cara pandang kolektif tentang pentingnya hidup bersama secara setara dan saling terhubung.

"Tuah Sakato, paduan dua suku kata yang dihasilkan dari kedewasaan berfikir dan kesadaran tentang hukum sebab akibat dalam kehidupan, di mana Tuah adalah wibawa sebagai pancaran nilai dari sikap dan prilaku yang lahir dari kesadaran tentang kebersamaan dan kesetaraan dalam satu kesepakatan, 'Sakato'," ujarnya, (27/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengibaratkan konsep ini seperti satu tubuh yang saling menopang. Setiap bagian memiliki peran dan harus bekerja dalam satu kesadaran agar tercipta gerak yang harmonis. Tanpa kesepakatan, kehidupan sosial akan kehilangan arah.

"Sebagaimana satu tubuh, untuk menghasilkan tindakan yang bijak, maka tubuh harus ditopang oleh kesadaran dan kesepakatan, kesatuan organ dan anggota tubuh sehingga menghasilkan gerak langkah yang harmonis. Tuah Sakato adalah marwah dari kesadaran tentang kebersamaan dalam merawat eksistensi kehidupan yang selaras dengan lingkungan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Dalam pandangan yang lebih luas, Tuah Sakato juga berkaitan dengan cara masyarakat melihat hubungan manusia dengan semesta. Kehidupan dipahami sebagai satu rantai yang saling terhubung, di mana manusia tidak bisa berdiri sendiri.

Ia menyebut, dalam tradisi Minangkabau, kesadaran ini dikenal melalui konsep "bakulindan basaluak rago", yang menempatkan manusia sebagai makhluk individu sekaligus sosial. Dari sini, kesepakatan menjadi fondasi utama dalam menjaga kerukunan.

Lebih lanjut, prinsip "duduak sama rendah, tagak sama tinggi" menjadi landasan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang setara dan sama berkontribusi dalam mencapai kesepakatan bersama. Nilai ini sekaligus menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan sosial hingga tingkat yang lebih luas.

Namun, di tengah perkembangan zaman, nilai Tuah Sakato menghadapi tantangan, terutama dari pola pikir individualistik yang mulai berkembang di kalangan generasi muda. Kondisi ini dinilai dapat mengikis kesadaran akan pentingnya kebersamaan.

"Tuah sakato adalah lentera yang menyinari kegelapan cara pandang, individualistik yang memabukkan, tuah sakato adalah gema kesadaran yang membangunkan tidur panjang dari ego individualistik. Dengan kesadaran kebersamaan, manusia mau maju surut dalam ego dan konflik, 'kalah sesapu, menang sesapu' adalah prinsip dalam penyelesaian konflik," katanya.

Ia menambahkan, generasi muda perlu kembali menyadari bahwa kehidupan tidak bisa dijalani secara sendiri. Manusia tetap terikat dalam realitas sosial yang menuntut adanya kesepakatan dan kebersamaan.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom




(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads