Paradiso, Kolam Renang Tertua di Medan Sejak 1924

Paradiso, Kolam Renang Tertua di Medan Sejak 1924

Siti Asyaroh - detikSumut
Rabu, 15 Apr 2026 22:01 WIB
Kolam Renang Paradiso
Foto: Kolam Renang Paradiso (Finta Rahyuni/detikSumut)
Medan -

Kolam Renang Paradiso merupakan salah satu sarana olahraga di Kota Medan. Ia menyimpan jejak sejarah panjang sebagai kolam renang pertama sekaligus tertua di Kota Medan.

Kolam renang ini berada di Jalan Sisingamangaraja No.6. Keberadaannya menjadi saksi perkembangan kota sejak masa kolonial. Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU), M. Azis Risky Lubis menjelaskan bahwa kolam renang ini awalnya dikenal dengan nama Medan Zwembad

"Benar, Kolam Renang Paradiso merupakan kolam renang pertama sekaligus yang tertua, yang ada di Kota Medan. Semula, kolam renang ini bernama Medan Zwembad," ujarnya, Rabu (15/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menuturkan, pembangunan kolam renang tersebut dimulai pada tahun 1924 di kawasan yang dahulu dikenal sebagai Jalan Radja (Radja Straat). Proses pembangunannya terbilang unik karena melibatkan berbagai pihak.

"Kolam renang ini dibangun pertama sekali tahun 1924, dan berlokasi di jln. Radja (Radja Straat). Proses pembangunannya tergolong unik, karena keberadaan kolam renang ini tidak terlepas dari peran Pemerintah Kolonial, Perusahaan Ajer Bersih dan Sultan Deli sendiri," katanya.

ADVERTISEMENT

Lebih jauh, Azis menjelaskan bahwa gagasan pembangunan sebenarnya sudah muncul sejak 1918, namun baru terealisasi beberapa tahun kemudian.

"Pembangunan kolam renang ini diinisiasi oleh G. Van Altena pada tahun 1922, setelah rencana sebelumnya yang diinisiasi oleh Asosiasi Pemandian dan Renang Delian (Medansche Zwemvereeniging), Dewan Kota Medan, dan Perusahaan Ajer Bersih pada tahun 1918 gagal untuk terealisasi," jelasnya.

Pada tahap awal, kolam ini memanfaatkan reservoir atau bak penampung sisa air bersih milik pemerintah kota (Gemeente Medan) yang telah direnovasi secara sederhana. Seiring meningkatnya minat masyarakat, berbagai pembaruan dilakukan untuk mempercantik sekaligus memperluas area kolam.

Renovasi tercatat berlangsung pada 1925, 1927, 1928, dan 1930, lalu berlanjut pada 1935 di bawah arsitek Rostenburg bersama kontraktor Bennink and Co. Perkembangan tidak berhenti di situ. Pada 1938, renovasi kembali dilakukan di bawah pimpinan arsitek Groenewegen dan rampung pada 1940.

Berbagai pembaruan ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap fasilitas renang tersebut pada masa itu.

Namun, di balik kemegahannya, kolam renang ini juga mencerminkan realitas sosial pada era kolonial. Meski tidak secara eksklusif hanya untuk kalangan bangsawan, pengguna fasilitas ini didominasi oleh orang-orang Eropa. Bahkan, masyarakat pribumi saat itu tidak diperkenankan menggunakan fasilitas tersebut.

Mengutip kajian dalam skripsi berjudul "Medansche Zwembad, Kolam Renang Pertama di Kota Medan (1924-1942)", kolam ini menjadi salah satu pusat rekreasi favorit bagi warga Belanda dan Eropa lainnya, baik yang tinggal di Medan maupun luar wilayah Gemeente Medan. Pengunjung dikenakan tarif berbeda berdasarkan kategori, seperti anggota, non-anggota, hingga tiket harian.

Aturan pembatasan ini bukan hanya berlaku di Medan Zwembad, melainkan juga di berbagai fasilitas publik yang dibangun oleh pemerintah kolonial saat itu. Kini, seiring perubahan zaman, Kolam Renang Paradiso terbuka untuk masyarakat luas dan menjadi bagian dari warisan sejarah Kota Medan yang masih dapat dinikmati hingga hari ini.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads